Pendampingan Psikologi bagi Korban Gempa dan Tsunami

Kompas.com - 01/10/2018, 13:54 WIB
Petugas Basarnas melakukan pencarian korban gempa dan tsunami di Hotel Roa Roa, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9).   Berdasarkan data BNPB jumlah korban akibat gempa dan tsunami per (30/9) pukul 13.00, sebanyak 832 orang meninggal dunia, 540 luka berat dan 16.732 pengungsi yang tersebar di 24 titik. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAPetugas Basarnas melakukan pencarian korban gempa dan tsunami di Hotel Roa Roa, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9). Berdasarkan data BNPB jumlah korban akibat gempa dan tsunami per (30/9) pukul 13.00, sebanyak 832 orang meninggal dunia, 540 luka berat dan 16.732 pengungsi yang tersebar di 24 titik.

KOMPAS.com - Saya ingat betul, jelas sekali meski sudah terjadi 12 tahun lalu. Pagi itu, Sabtu, 27 Mei 2006, saya bangun Pk. 05.30 WIB, lebih pagi dari biasanya karena ada jadwal wawancara di sebuah kampus Pk. 07.00 WIB.

Saya ambil handuk siap-siap mandi, kamar mandi masih dipakai adik yang pagi itu juga masuk sekolah. Tiba-tiba bumi berguncang hebat. Adik saya yang baru selesai mandi langsung teriak, “Lindu! Gempa!” Bapak juga teriak, “Gempa!”

Ibu dan adik ada di lantai bawah langsung lari keluar. Saya bertahan. Di Jogja sering terjadi gempa dan biasanya tidak lama. Saya percaya dengan bangunan rumah kami. Bapak saya lulusan teknik sipil, konsultan pemerintah kota untuk menghitung bangunan tahan gempa.

Tapi kali itu berbeda, 5 detik, 10 detik, 20 detik... Bumi masih terus berguncang.

Saya jadi agak panik, untuk keluar saya merasa sudah terlambat. Ibu dan adik saya pasti sudah sampai tanah lapang sekitar 100 meter di selatan rumah. Mau keluar, di depan rumah ada bangunan kos-kosan dua lantai, sebelah rumah ada dinding rumah tetangga yang tinggi.

Bukannya keluar, saya justru naik ke loteng. Berpegangan pada kolom atau tiang terkuat. Kurang lebih selama 20 detik saya disitu melihat horor secara langsung, rumah-rumah berderak-derak, bangunan runtuh dan genteng berhamburan.

Gempa berhenti. Rupanya dari tadi Bapak mencari-cari saya dan menemukan saya dengan wajah tegang. Saya tidak mendengar sama sekali teriakan-teriakan Bapak. Yang saya dengar hanya suara gemuruh menakutkan.

Pengalaman penyintas gempa

Alhamdulillah rumah saya utuh. Rumah tetangga persis di samping rumah runtuh, bangunan kost di depan rumah genteng berhamburan. Benar dugaan saya, ibu dan adik saya sudah aman di lapangan dekat rumah.

Tanpa pikir panjang, tanpa mandi saya ambil motor. Saat saya telah pastikan keluarga selamat, pikiran saya langsung menuju rumah nenek, kedua nenek saya baik dari Ibu maupun dari Bapak tinggal di kota bagian selatan, berbatasan dengan kabupaten Bantul, pusat gempa.

Horor belum selesai. Di jalan sirine meraung-raung. Korban gempa berlumuran darah dibawa dengan mobil-mobil bak terbuka, bersama tubuh-tubuh kaku yang hanya ditutup kain sarung atau daun pisang.

Halaman:
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X