5 Cara Bicara kepada Anak tentang Bencana Gempa - Kompas.com

5 Cara Bicara kepada Anak tentang Bencana Gempa

Kompas.com - 08/10/2018, 20:57 WIB
IlustrasiShutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com - Kita kembali berduka setelah terjadinya gempa dan tsunami yang menyusul menerjang Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9). Setelah bencana ini, orangtua mungkin kesulitan untuk mengungkapkan apa yang seharusnya dan tidak boleh dikatakan dan dibagikan kepada ananda.

American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan orangtua dapat menyaring informasi tentang bencana dan menyajikannya sedemikian rupa sehingga anak dapat menerima, menyesuaikan diri, dan menyikapi berita bencana tersebut.

Berikut 5 tips AAP bagaimana orangtua dapat berbicara kepada anak tentang bencana yang sedang terjadi:

1. Menggali pertanyaan

Berapapun usia atau tahap perkembangan anak, orangtua dapat memulai dengan menanyakan kepada anak apa yang sudah mereka dengar dan lihat terkait bencana yang sedang terjadi dan diberitakan.

Anak-anak dan remaja mungkin mengajukan lebih banyak pertanyaan dibandingkan anak usia dini dan dapat meminta dan mendapatkan manfaat lebih banyak dari informasi tambahan. Tetapi berapa pun usia ananda, lebih baik untuk tetap menjaga dialog dan berkomunikasi secara langsung. 

2. Menghindari tayangan media dan grafis secara rinci

Secara umum, yang terbaik adalah secara langsung berbagi informasi dasar dengan anak. Anak belum memerlukan berita yang disertai grafis detail tentang keadaan tragis tersebut. Untuk itu informasi grafis dan gambar harus dihindari.

Jauhkan anak-anak usia dini dari gambar dan suara grafis berulang yang mungkin muncul di televisi, radio, media sosial, komputer, dan lain-lain.

3. Mendampingi saat menonton berita

Dengan anak yang lebih besar, jika orangtua ingin mereka menonton berita, orangtua perlu menonton terlebih dahulu tayangan tersebut sehingga memungkinkan untuk melihat dan mengevaluasi isinya sebelum orangtua duduk bersama anak untuk menontonnya.

Baca juga: Orangtua Dibully Anak, Loh Kok Bisa? Bisa!

 

Kemudian, saat menontonnya bersama, orangtua dapat menyelinginya dengan berdiskusi ketika merasa diperlukan.

4. Perhatikan akses media sosial

Saat ini, sebagian besar anak-anak yang lebih besar akan memiliki akses ke berita dan gambar grafis melalui media sosial dan aplikasi lain langsung dari ponsel mereka. Orangtua perlu menyadari apa yang ada di luar sana dan mengambil langkah sebelumnya untuk berbicara dengan anak tentang apa yang mungkin mereka dengar atau lihat.

5. Menumbuhkan empati dan aksi nyata

Peristiwa ini dapat menjadi sarana orangtua untuk menumbuhkan rasa empati pada anak. Bantu anak untuk mampu bersikap empati terhadap penderitaan yang tengah dialami teman atau saudara lain tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras atau golongan.

Selanjutnya, ajak anak untuk melakukan tindakan nyata untuk membantu, sekecil apapun bantuan yang dapat diberikan.



Close Ads X