Presiden Jokowi: Kita Bangsa Besar, Masak 5 Tahun Sekali Ribut Terus?

Kompas.com - 10/10/2018, 10:07 WIB
Presiden Joko Widodo didampingi Mendikbud Muhadjir Effendy saat memberikan pengarahan kepada ketua OSIS dan ketua sie kerohanian SMA dan SMK dari seluruh Indonesia dalam acara AKSI (Apresiasi Kebangsaan Siswa/Siswi Indonesia) 2018 di Bogor,10 Oktober 2018.
Dok. Kompas.comPresiden Joko Widodo didampingi Mendikbud Muhadjir Effendy saat memberikan pengarahan kepada ketua OSIS dan ketua sie kerohanian SMA dan SMK dari seluruh Indonesia dalam acara AKSI (Apresiasi Kebangsaan Siswa/Siswi Indonesia) 2018 di Bogor,10 Oktober 2018.

KOMPAS.com - Direktorat Pembinaan SMA dan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) menggelar acara AKSI (Apresiasi Kebangsaan Siswa/Siswi Indonesia) 2018 di Bogor, Jawa Barat, 9-12 Oktober 2018.

Acara ini bertujuan memberikan pendidikan dan pelatihan wawasan kebangsaan kepada ketua OSIS dan ketua sie kerohanian SMA dan SMK dari seluruh Indonesia. Tidak  kurang 540 siswa dan 68 guru pendamping dari 34 provinsi hadir dalam kegiatan ini.

Ada beberapa pilar karakter nilai ditanamkan dalam ajang AKSI 2018 tahun ini: nasionalisme, kemandirian, religius dan gotong royong.

Presiden Joko Widodo berkesempatan hadir dalam acara ini (10/10/2018).

Kita bangsa besar

"Negara kita adalah negara besar. Kita memiliki 263 juta jumlah penduduk penduduk di 17 ribu pulau," kata Jokowi dalam pengarahan kepada para siswa dan guru di awal acara.

Presiden menceritakan, ia pernah menghabiskan melakukan perjalanan dari Aceh hingga Wamena dan membutuhkan waktu 9 jam 15 menit waktu perjalan. "Itu sama dengan perjalanan dari London hingga Turki. Kita bangsa yang sangat besar anak-anakku sekalian," jelas Presiden Jokowi.

Baca juga: FIKSI 2018, Menuju SMA Hebat lewat Inovasi Kewirausahaan

Bedanya, lanjut Presiden, kita dianugrahi Tuhan dengan banyak perbedaan. Beda agama, suku dan bahasa daerah, tambahnya.

Besar dengan anugerah perbedaan

"Kalau perbedaan ini tidak disadari kita akan mudah diadudomba," lanjut Presiden. Kita memiliki 714 suku, Singapura hanya 4 dan Afganistan hanya 7. Kalau kita tidak memahami hal itu, bahaya perpecahan akan mengancam.

"Afganistan hanya ada 7 suku namun perang 40 saudara tahun tidak selesai," ujar Presiden.

"Masa depan adalah milik anak-anak semua. Jangan sampai tidak menyadari mengenai perbedaan ini. Inilah negara kita Indonesia. Jangan sampai kita terpecah belah baik oleh kepentingan luar atau maupun politik di dalam," pesan Presiden Jokowi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X