Bondhan Kresna W.
Psikolog

Psikolog dan penulis freelance, tertarik pada dunia psikologi pendidikan dan psikologi organisasi. Menjadi Associate Member Centre for Public Mental Health, Universitas Gadjah Mada (2009-2011), konselor psikologi di Panti Sosial Tresna Wredha “Abiyoso” Yogyakarta (2010-2011).Sedang berusaha menyelesaikan kurikulum dan membangun taman anak yang berkualitas dan terjangkau untuk semua anak bangsa. Bisa dihubungi di bondee.wijaya@gmail.com. Buku yang pernah diterbitkan bisa dilihat di goo.gl/bH3nx4 

Cara Meladeni Debat di Media Sosial

Kompas.com - 29/10/2018, 14:40 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

Otak berhenti berpikir kritis

Menurut Prof. Mascolo, serangan personal semacam ini merusak inti diskusi yang ingin dibangun Bona, bahkan menuding Bona tidak peduli dengan agamanya sendiri. Tentu saja hal ini bisa memprovokasi Bona dan melupakan bangunan diskusi yang ingin dibangun di awal. 

Bona: Justru HTI yang membajak kalimat tauhid dalam benderanya, seperti juga ISIS, Al-Nusra, mereka mensponsori pemberontakan di Suriah, di Irak, di Yaman. Yang ada hanya kehancuran. Makanya banyakin baca dong! Jangan cuma baca link ga jelas!

Pada titik ini, diskusi sebenarnya sudah tidak ada gunanya. Serangan personal membuat individu semakin defensif, semakin emosional. Ketika itu terjadi. otak berhenti berpikir kritis, yang berfungsi adalah amygdala.

Amygdala adalah bagian otak paling primitif, yang pola pikirnya adalah flight (lari) atau fight (berantem) ketika menghadapi ancaman. Seperti otak rusa atau zebra yang melihat predator.

Menang tanpa menyakiti

Kita harus menghadapi kebencian dengan kemauan untuk melihat kenapa seseorang membenci sesuatu, apa motifnya. Untuk menuju ke sana tidak bisa dilakukan tanpa menjaga hubungan personal. Misalnya dengan menawarkan sebuah pertanyaan terbuka.

Bona: Sebenarnya sangat disayangkan ada aksi pembakaran bendera itu. Banser salah. Tapi menurutku tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mungkin kamu punya pendapat lain. Bagaimana menurutmu Rong-rong? Apakah ada cara supaya kita tidak diadu domba?

Kita bisa perhatikan, materi ingin disampaikan Bona sebenarnya sama, tapi caranya berbeda. Bona menanyakan pada Rong-rong dengan memposisikan sebagai orang sejajar. Tidak lebih tahu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari sana diharapkan Bona lebih tahu apa yang dipikirkan Rong-rong. Meski keduanya tidak saling setuju. Tapi setidaknya keduanya setuju untuk tidak saling setuju. Sehingga diskusi tidak terperosok menjadi konflik tidak perlu.

Dalam istilah jawa “menang tanpa ngasorake”. Menjadi pemenang dengan tidak membuat orang lain merasa kalah. Istilah keren yang mungkin mendekati adalah win-win solution. Selamat berdiskusi.

Sumber :
Czopp, A. M., Monteith, M. J., & Mark, A. Y. (2006). Standing Up for a Change: Reducing Bias Through Interpersonal Confrontation. Journal of Personality & Social Psychology, 90, 784-803
Mascolo, M. F. (2016). The Transformation of a White Supremacist: A Dialectical-Developmental Analysis. Qualitative Psychology, 1-20.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.