Mengintegrasikan Pendidikan Sains dan Agama, Mungkinkah?

Kompas.com - 02/11/2018, 22:45 WIB
Riyanto Sofyan, Founder Madina Islamic School saat menerima kunjungan petinggi Cambridge International ke Indonesia, Jumat (26/10/2018). Dok. Madina Islamic SchoolRiyanto Sofyan, Founder Madina Islamic School saat menerima kunjungan petinggi Cambridge International ke Indonesia, Jumat (26/10/2018).

KOMPAS.com - Siapa bilang mengintegrasikan pendidikan sains dan agama adalah hal mustahil?

Metode pendidikan Madina Islamic School dapat menjadi salah satu modelnya. Soal integrasi sains dan pendidikan agama ini disampaikan Riyanto Sofyan, Founder Madina Islamic School saat menerima kunjungan petinggi Cambridge International ke Indonesia, Jumat (26/10/2018).

Menurut Riyanto, disiplin ilmu sains seperti matematika, algoritma dan aljabar juga terdapat dalam Al Quran. "Makna yang tersirat dalam Al Quran mengandung makna- makna dalam ilmu sains, ilmuwan muslim pendahulu telah mengajarkan kita banyak hal ini seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, dan lainnya," jelas Riyanto.

Ia menambahkan sejarah perkembangan ilmu Aljabar tidak dapat dilepaskan dari peradaban Islam. Riyanto menjelaskan, Al Khawarizmi dikenal sebagai penemu Aljabar sebelum diadopsi Yunani menjadi ilmu aritmatika.

"Jadi sebenarnya tidak sulit mengintegrasikan sains dan agama dalam kurikulum pendidikan kalau kita tahu akar sejarahnya," tegasnya.

Baca juga: FLS 2018 dan Momentum Mengintegrasikan Literasi dalam Kurikulum 2013

Dalam hal akademik, Madina Islamic School menjadi sekolah yang mengadopsi tiga kurikulum sekaligus yaitu kurikulum Cambridge International, kurikulum Al-Azhar Cairo, dan kurikulum Nasional.

Meskipun terkesan berat dan sulit bagi siswa, namun ketiga kurikulum ini sukses diterapkan di sekolah yang sudah berdiri selama hampir 15 tahun itu.

Riyanto menyampaikan pada awalnya orang tua siswa merasa keberatan dengan diberlakukannya 3 kurikulum sekaligus. Alasannya, menurut orang tua siswa dapat mengganggu keseimbangan waktu belajar dan bermain anak.

"Lambat laun, orang tua siswa mulai percaya dengan kurikulum yang diterapkan oleh sekolah, alumni Madina Islamic School juga banyak yang akhirnya diterima di sekolah terbaik dalam negeri dan luar negeri," tambahnya.

Ian Harris, Head of Marketing Communications Cambridge International Examination, menyampaikan kekagumannya. Sebab, tidak sedikit sekolah kewalahan mengintegrasikan sains, dalam hal ini kurikulum Cambridge International, ke dalam kurikulum baku sekolah.

Selain Ian Harris, hadir dua petinggi Cambridge International lainnya, yaitu Dianindah Apriyani, Senior Country Manager Indonesia dan Eve Sewell, Marketing Communication Manager, Southeast Asia and Pacific. 

Madina Islamic School (MIS) sendiri merupakan sekolah Islam inklusif dan terpadu mulai dari tingkat pre-school, kindergarten (TK), primary school (SD), dan secondary school (SMP). MIS menerapkan tiga kurikulum pendidikan yaitu kurikulum nasional, kurikulum internasional dari Cambridge School, dan kurikulum Al-Azhar Cairo.

MIS juga menerapkan kebijakan wajib hafalan Al-Quran kepada siswa SD dan SMP.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X