Kompas.com - 03/11/2018, 16:57 WIB

KOMPAS.com - Tidak mudah bagi Esim (72 tahun) dan Komariah (60 tahun) membiayai sekolah anak sampai lulus S1 di tengah kesulitan ekonomi.

Esim hanya sekolah sampai kelas 2 SD menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai buruh becak di Jakarta. Profesinya sebagai buruh becak membuat Esim jarang pulang ke Kampung Gempol, Desa Kertamulya, Kecamatan Pedes Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Sedangkan Komariah, istrinya sama sekali tidak mengenyam pendidikan dan membantu ekonomi keluarga dengan berjualan sayuran keliling.

“Bapak kadang pulang dua minggu sekali, itu kalau bisa bawa uang, kalau ngga ada uang, ya pulang sebulan sekali, bawa uangnya ngga banyak, paling sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu, “ujar Komariah seperti dikutip dari laman resmi forum Sahabat Keluarga Kemendikbud.

Sedangkan jualan sayur hasilnya juga tak seberapa. Apalagi bila banyak pembeli berhutang, jangankan untung, modal beli sayuran juga selalu terpakai untuk kehidupan sehari-hari, bayar iuran sekolah atau lainnya.

“Kalau sudah begitu, yang jadi andalan kami adalah pinjem ke bank keliling yang suka meminjam kan uang dengan angsuran harian. Bayarnya dari uang hasil jual sayur, “kata Komariah.

Mengantar anak lulus sarjana

Dengan kondisi dan situasi ekonomi keluarga sangat minim itu, adalah suatu hal mustahil pasangan itu bisa membiayai sekolah 2 anaknya hingga meraih gelar sarjana.

Tapi faktanya saat ini, kedua putri Esim-Komariah, Kusmini (23 tahun) berhasil lulus dan meraih gelar S1 dari Universitas Terbuka Karawang. Adiknya, Suharsih (20 tahun) juga meraih gelar sarjana S1 dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Purwakarta.

Baca juga: Menuliskan Mimpi Besar Anak Indonesia

 

Keduanya kini berprofesi guru honorer. Saat ini Kusmini mengajar SD Negeri Malangsari 1 Kecamatan Pedes, Karawang, sedangkan Suharsih guru di SDIT Tadzkia di Langsa, Aceh setelah sebelumnya pernah menjadi guru dalam program SM3T (Sarjana Mengajar di Daerah tertinggal, Terluar dan Terisolir) serta guru anak TKI di Sabah, Malaysia.

Mendengar cerita Komariah bagaimana perjuangannya membiayai sekolah kedua putrinya itu di tengah himpitan kemiskinan bagaikan menyaksikan melodrama menguras air mata. 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.