Tempat Wisuda Beratap Tenda, Lulusan Untad Diajak Tidak Larut Berduka - Kompas.com

Tempat Wisuda Beratap Tenda, Lulusan Untad Diajak Tidak Larut Berduka

Kompas.com - 08/11/2018, 21:53 WIB
Wisuda ke-94 Universitas Tadulako (Untad) digelar di Lapangan Universitas Tadulako, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (8/11/2018).Dok. Kemeristekdikti Wisuda ke-94 Universitas Tadulako (Untad) digelar di Lapangan Universitas Tadulako, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (8/11/2018).

KOMPAS.com - Beratapkan tenda, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) memberikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-94 Universitas Tadulako ( Untad) yang digelar di Lapangan Universitas Tadulako, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (8/11/2018).

Gedung yang sedianya akan digunakan wisuda masih rusak akibat bencana gempa beberapa waktu lalu.

Dalam orasi ilmiahnya Menristekdikti Mohamad Nasir mengajak seluruh civitas akademik Untad lakukan perbaikan di semua sektor. Dilansir dari laman resmi Kemenristekdikti, Nasir menyampaikan jangan sampai kampus yang rusak menjadi penghalang untuk bangkit dan menghilangkan rasa semangat Untad.

Selain itu Nasir juga jelaskan bahwa dirinya telah mengajak Kementerian PUPR untuk merevitalisasi bangunan kampus.

“Saya telah berkoordinasi dengan menteri PUPR. Oleh Pak Menteri PUPR rencananya dianggarkan untuk menyelesaikan perbaikan kampus pada tahun 2019, sebesar 283 miliar rupiah. Akan kita selesaikan di tahun 2019,” ujar Nasir.

Baca juga: Wisuda UB, Menhub Imbau Mahasiswa Wisudawan Tanggap Perubahan

Dalam kesempatan itu Menristekdikti memberikan Beasiswa Bidikmisi kepada 896 mahasiswa korban gempa dan tsunami di Untad yang diwakili secara simbolis kepada 5 mahasiswa.

“Dalam wisuda ke-94 kali ini kami sengaja melakukan penyesuaian item-item acara tanpa mengurangi makna yang dikandungnya," ujar Rektor Untad M. Basyir Cyio.

Ia mengajak wisudawan jangan menanyaka hakikat apa yang ada di dalam tenda sederhana ini sebab selain tidak bisa ditakar dengan rupiah juga akan menjadi kisah nyata dalam perjalanan para wisudawan di masa datang. 

Basyir juga mengingatkan bahwa tidak dilarang untuk bersedih bahkan boleh saja menangis dan terisak. Namun tidak boleh larut keberkepanjangan dalam duka.

“Mari kita jadikan duka ini sebagai awal kehidupan kita, cobaan gempa bumi, tsunami, likuifaksi, yang Tuhan tunjukkan adalah sebuah pembelajaran bahwa kita dihadapan Tuhan bukan siapa-siapa,” lanjut Basyir.


Terkini Lainnya


Close Ads X