Kompas.com - 15/11/2018, 19:12 WIB
Sejumlah siswa melihat ubi kayu ukuran jumpo di Kabupaten Expo, Kamis (11/8/2016) siang. Ubi kayu dengan berat 1.5 kwintal ini dibudidayakan oleh kelompok Usaha Tani Maju desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. kompas.com/ syahrul munirSejumlah siswa melihat ubi kayu ukuran jumpo di Kabupaten Expo, Kamis (11/8/2016) siang. Ubi kayu dengan berat 1.5 kwintal ini dibudidayakan oleh kelompok Usaha Tani Maju desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemahaman keberagaman pangan lokal mulai dari sagu, jali, sorgum, jagung, dan ubi kayu menjadi salah satu tantangan yang terus digalakkan, khususnya bagi generasi penerus, termasuk siswa sekolah dasar.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertanian M.Syakir pemahaman ini penting lantaran konsumsi bahan pangan impor semakin tinggi.

"Kita sudah lebih 20 tahun memakan tepung impor. Ini yang harus kita ubah pelan-pelan," ujarnya (14/11/2018).

Ikhwal tepung impor, Syakir membeberkan catatan pihaknya sebagaimana termaktub pada laman biogen.litbang.pertanian.go.id.

Konsumsi terigu nasional

Ilustrasi mi instantdidoi Ilustrasi mi instant

Tepung terigu impor yang erat kaitannya dengan produk makanan siap saji mi instan mengalami kenaikan terus-menerus pada tingkat konsumsi. Tiap tahun, konsumsi rata-rata satu orang Indonesia akan terigu naik satu kilogram.

Pada 2008, konsumsi terigu nasional ada di posisi 15,5 kilogram per tahun per orang Indonesia. Pada 2018, angka tersebut berubah menjadi 25 kilogram per tahun per orang Indonesia pada 2018.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tingkat konsumsi yang tinggi meningkatkan impor namun menjadi beban bagi negara," kata Syakir.

(Baca: Mi Instan Jadi Candu Dunia, Indonesia Nomor 2 Pengonsumsi Tertinggi)

Mulai dari sekolah dasar
Kapurung, makanan khas Toraja berkuah ini berbahan dasar sagu yang disiram air panas, kemudian dibuat kecil-kecil seukuran bakso, lantas ditambah berbagai macam sayuran, dan makanan lainnya seperti jagung, potongan ikan, udang, atau lainnya,www.indonesiakaya.com Kapurung, makanan khas Toraja berkuah ini berbahan dasar sagu yang disiram air panas, kemudian dibuat kecil-kecil seukuran bakso, lantas ditambah berbagai macam sayuran, dan makanan lainnya seperti jagung, potongan ikan, udang, atau lainnya,

Syakir lebih lanjut mengemukakan, pengenalan keragaman pangan lokal sangat bisa dimulai dari anak-anak sekolah dasar (SD).

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.