Kompas.com - 19/11/2018, 21:36 WIB
Presiden Direktur LPDP Rionald Silaban usai dengan 15 perguruan tinggi Belanda di kantor Nuffic di Den Haag, Senin (29/11/2018), KOMPAS.COM/M LATIEFPresiden Direktur LPDP Rionald Silaban usai dengan 15 perguruan tinggi Belanda di kantor Nuffic di Den Haag, Senin (29/11/2018),
Editor Latief

DEN HAAG, KOMPAS.com - Presiden Direktur LPDP Rionald Silaban mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan pembagian persentase beasiswa bagi pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi di luar negeri, terutama anggapan mengenai sedikitnya kuota untuk program beasiswa reguler dibandingkan afirmasi.

Disampaikan pada diskusi dengan 15 perguruan tinggi Belanda di kantor Nuffic di Den Haag, Senin (29/11/2018), Rio mengatakan bahwa pemerintah baru saja menata ulang program beasiswa LPDP. Jika dulu hampir seluruhnya kuota beasiswa untuk program reguler, kini hal itu sudah berubah.

"Jadi, sudah ada adjusment terhadap bisnis model LPDP. Kalau dulu hampir seluruhnya reguler yang kompetisinya terbuka, sekarang kita punya istilah reguler dan targeted. Sekarang, program reguler itu hanya untuk pilihan beasiswa di 20 universitas dan beberapa universitas lain dengan program studi terbaik di terbaik dunia. Khusus di Belanda contohnya adalah Wageningen University untuk program studi agrikultur. Di luar Belanda ada Harvard, MIT, dan lainnya," kata Rio.

Tahun ini, lanjut Rio, dana pengelolaan LPDP diharapkan mencapai Rp 46 triliun. Jumlah dana untuk beasiswa itu akan dicairkan untuk dua kategori beasiswa. Kategori pertama adalah reguler, afirmasi daerah 3T, alumni bidikmisi berprestasi, individu berprestasi dari keluarga miskin atau prasejahtera, serta prestasi olahraga, seni, kebudayaan, serta keagamaan.

Adapun kategori kedua adalah beasiswa PNS/TNI/POLRI, Beasiswa Santri, serta Beasiswa Prestasi Olimpiade Bidang Sains, Teknologi, dan Keterampilan atau talent scouting.

"Pada dasarnya kita tak membuat alokasi atau persentase. Secara garis besar 20-30 persen itu untuk reguler, kemudian 70 sampai 80 persen untuk targeted atau afirmasi. Yang afirmasi itu nanti dialokasikan berdasarkan hasil tes atau aplikasinya. Kita sadar, kalau kita luncurkan belum tentu semua terpakai. Kita lihat dalam dua atau tiga tahun nanti hasilnya seperti apa, yang betul-betul terpakai alokasinya seberapa, kita evaluasi lagi," ujar Rio.

Terkait perguruan tinggi Belanda, lanjut Rio, pemerintah tetap menjadikan negara ini sebagai negara potensi tujuan. Program unggulannya adalah agrikultur, yakni Universitas Wageningen dan TU Delft untuk program studi teknik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tapi, di saat bersaman kita tak akan membatasi. Kalau dilihat dari program afirmasi, perguruan tinggi Belanda masih masuk kok. Jadi, sebetulnya, baik reguler atau afirmasi seharusnya tidak ada atau terlalu berubah pilihan universitasnya, yang berubah itu recipient atau penerimanya. Intinya, semua terbuka," papar Rio.

Karin Paardenkooper dari University of Twente (UTwente) mengaku puas dengan hubungan kerjasama LPDP yang berlangsung sejak 2014 lalu. Menurut dia, sudah banyak mahasiswa Indonesia di Twente yang terbantu dengan pendanaan beasiswa tersebut.

"Hubungan ini menjadi pengantar pelajar masuk ke dalam kolaborasi internasional di sektor pendidikan," ujar Karin. 

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.