Kompas.com - 20/11/2018, 14:07 WIB
Salah satu PAUD yang berada di area Rumah Susun Muara Baru, Jakarta Utara, Kamis (4/10/2018). KOMPAS.com/Ardito Ramadhan DSalah satu PAUD yang berada di area Rumah Susun Muara Baru, Jakarta Utara, Kamis (4/10/2018).

KOMPAS.com - Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAD) dan (Pendidikan Masyarakat) Dikmas, Harris Iskandar menilai model-model pengembangan PAUD dan Dikmas yang dikembangkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) belum bisa menjawab kebutuhan masyarakat dan menyelesaikan masalah yang ada di wilayahnya.

Hal itu disebabkan karena proses pengembangan model tidak sesuai dengan kaidah pengembangan model.

“Dua hal ini membuat banyak model pengembangan PAUD dan Dikmas belum dapat divalidasi yang akhirnya belum bisa diterapkan di masyarakat,” demikian dikatakan Harris seperti dikutip dari Sahabat Keluarga Kemendikbud.

Menjawab kebutuhan masyarakat

Tertundanya model untuk diterapkan di masyarakat, menurut Harris, pada akhirnya membuat model itu berpeluang untuk tidak bisa diterapkan.

Hal itu mengingat, bahwa model itu setiap saat harus direvisi dan disesuaikan dengan dinamika kebutuhan dan keinginan masyarakat yang selalu ingin lebih baik, lebih cepat dam lebih mudah.

Baca juga: Kompetensi Guru PAUD Indonesia Raih Penghargaan UNESCO

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Keinginan masyarakat itukan sangat beragam dan mudah berubah dari waktu ke waktu menyesuaikan dengan perubahan gaya hidup, perubahan kebutuhan dan timbulnya masalah baru yang salah satunya disebabkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,“ jelas Harris.

Untuk menjawab permasalahan itu, Harris mendorong para pamong sebagai pengembang model untuk tertib mengikuti-kaidah pengembangan model, mulai dari identifikasi permasalahan di masyarakat, analisa kondisi, dan studi literatur.

Kreatif dan inovatif kembangkam konsep

“Setelah itu lakukan penyusunan konsep model yang direview para pakar dan akademisi, direvisi, lakukan ujicoba, evaluasi yang bila itu semua dilakukan dengan tertib akan mudah divalidasi, dibakukan, diterapkan dan terakhir direplikasi, “lanjutnya.

Harris juga menantang para pamong untuk mempunyai keberanian mengembangkan model yang kreatif dan inovatif dan berani mengambil resiko. “Modal utama untuk berhasil dalam semua hal adalah keberanian mengambil resiko dan menantang status quo," katanya.

Saat mengamati kebutuhan dan masalah yang ada di masyarakat, Harris menilai, pengembang model perlu mempelajarai keterampilan mengajukan pertanyaan, mengamati kondisi yang ada, memperluas jejaring komunikasi untuk lebih mendalami informasi yang didapat serta melakukan percobaan.

“Satu lagi, yakni keterampilan mengasosiasi, yakni menghubungan berbagai gagasan, menghubungan antara apa yang dilihat dan didengar," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.