Gempa Intoleransi Mengancam Indonesia - Kompas.com

Gempa Intoleransi Mengancam Indonesia

Kompas.com - 30/11/2018, 19:28 WIB
Ilustrasi literasi toleransiKOMPAS/DIDIE SW Ilustrasi literasi toleransi

INDONESIA sedang bergelut menghadapi bencana alam sekaligus bencana sosial. Bencana sosial dengan gempa dan tsunami yang terjadi pada beberapa bulan terakhir, di sejumlah kawasan Indonesia merenggut senyum warga negeri ini.

Bencana alam bertubi-tubi mengguncang kehidupan warga Indonesia, dari gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Palu-Donggala di Sulawesi Tengah. Indonesia berduka dengan ribuan warga yang kehilangan nyawa, rusaknya tempat tinggal, dan raibnya sanak-saudara.

Sementara, bencana sosial terus berangsur menghajar warga negeri ini, dengan perdebatan tanpa henti, beserta hasutan dan kebencian yang membakar nyali.

Kita hidup di negeri yang dianugerahi kesuburan tanah, namun diintai oleh bencana-bencana dari siklus bumi, di kawasan ring of fire. Kita diguyur kenikmatan sebagai bangsa kreatif dengan semangat gotong royong, namun dipecah belah oleh hoaks dan api kebencian yang disulut di media sosial, terlebih pada momentum kontestasi politik kali ini.

Bencana alam membuat warga negeri ini menangis, tapi alam memiliki siklusnya. Pelajaran penting untuk mengais jejak pengetahuan dari tanda-tanda dan ilmu titen nenek moyang kita.

Warga Indonesia seolah terputus dari sejarah pengetahuan dan kearifan kebudayaannya. Cara kita menghargai alam, tergeser oleh kerakusan mengeksploitasi, sembari kita seolah melupakan penghormatan sekaligus kecintaan merawat alam, merawat negeri ini.

Di sisi lain, gempa sosial yang merembet dari perdebatan di media sosial hingga interaksi antar-personal dalam kehidupan nyata, menggeser nilai-nilai kearifan kita. Dalam kerumunan perdebatan, yang muncul hanyalah narasi kebencian dan saling menyalahkan.

Kita berdebat tanpa ujung, dari satu isu ke isu lain dengan napas tersengal-sengal. Seolah, kita telah kehabisan oksigen pengetahuan dan kesabaran merenungi kehidupan.

Inikah wajah Indonesia kita?

Krisis toleransi

Bencana di ruang interaksi sosial kita diperparah dengan tumbuh suburnya kebencian dan intoleransi. Laporan Setara Institute menyebutkan, intoleransi semakin berdenyut di nadi keindonesiaan kita.

Sepanjang 2017, terjadi 155 pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di 29 provinsi di Indonesia. Sementara, pada awal 2018 ini, narasi intolerasi memenuhi wajah keindonesiaan kita.

Kita masih belum lupa tentang kasus pembubaran kegiatan bakti sosial Gereja Katholik St Paulus Pringplayan, Bantul, Yogyakarta. Lalu, tragedi penyerangan di Gereja Katolik St Lidwina, Trihanggo Sleman, dan pengusiran seorang biksu di Tangerang, Banten.

Paparan riset Setara Institute juga melengkapi riset sebelumnya, yang meringkas bahaya intoleransi di ranah pendidikan. Dari survei di 171 sekolah, terungkap betapa siswa SMA rentan terpapar radikalisme dan gejala terorisme.

Dari analisa 18 pertanyaan kunci, terungkap sebesar 2,4 persen siswa memiliki sikap intoleransi aktif. Sedangkan, siswa yang terpapar radikalisme sebanyak 0,3 persen. Jumlah ini termasuk menghawatirkan, karena bibit intoleransi telah tersemai di level siswa.

Tunas-tunas muda di ruang pendidikan kita perlu diselamatkan dengan oksigen kasih sayang dan cinta kemanusiaan, bukan kebencian dan hasutan kekerasan. Sementara, guru-guru yang seharusnya mendidik dan memberi keteladanan, juga terinfeksi virus kebencian.

Alarm bahaya ini terdengar dari survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang dirilis pada Oktober 2018. Survei tersebut dilakukan pada 6 Agustus 2018 hingga 6 September 2018, dengan menggunakan unit analisis guru Muslim dari level TK/RA sampai SMA/MA untuk semua mata pelajaran.

Dari survei ini, variabel utama yang ingin digali yakni level intoleransi dan radikalisme guru, serta faktor-faktor dominan yang mempengaruhi. Sampel guru yang paling banyak diambil sejumlah 2.237 dengan margin of error 2,07 persen serta tingkat kepercayaan 95 persen.

Dari laporan survei ini, terungkap betapa level intoleransi guru di beberapa kawasan di Indonesia cukup tinggi, serta mengarah bahaya pada rusaknya ekosistem pendidikan di negeri ini.

Persentasenya secara umum di atas 50 persen untuk guru dengan opini intoleran, dengan 46,09 persen di antaranya mempunyai pandangan radikal. Pada sisi intensi-aksi, levelnya cukup mengkhawatirkan untuk masa depan pembelajaran di negeri ini. Terungkap data, 37,77 persen guru intoleran serta 41,26 persen radikal.

Menurut PPIM, ada tiga faktor penting yang menjadi fondasi tumbuh suburnya intoleransi di kalangan guru. Yakni,

  1. Pandangan Islamis
    Riset ini mengungkap sejumlah 40,36 persen guru setuju bahwa seluruh ilmu pengetahuan sudah ada di Al Quran, dengan demikian tidak perlu mempelajari khazanah pengetahuan dari Barat.
  2. Faktor demografi
    Jenis kelamin, sekolah madrasah versus sekolah negeri, status kepegawaian, penghasilan dan usia.
  3. Kedekatan dengan ormas dan sumber pengetahuan Islam.
    Guru-guru yang memiliki kedekatan dengan ormas Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, memiliki pandangan yang lebih toleran dan moderat.

Dari survei ini, tergambar bagaimana pandangan guru-guru terhadap indoktrinasi agama serta isu relasi sosial antar-agama. Sebanyak 56 persen guru tidak setuju jika non-Muslim boleh mendirikan sekolah berbasis agama di sekitar mereka.

Kemudian, 21 persen guru tidak setuju jika ada tetangga yang berbeda keyakinan mengadakan acara keagamaan di lingkungan mereka. Ironisnya, sejumlah 33 persen guru setuju menganjurkan orang lain berperang demi mewujudkan negara Islam. Lalu, 29 pendidik pendidik setuju untuk ikut berjihad di Filiphina Selatan, Suriah, dan Irak, untuk tujuan negara Islam.

Laporan survei menjadi lonceng bahaya bagi masa depan pendidikan dan narasi keindonesiaan kita. Guru-pendidik yang seharusnya menebar keteladanan dan nilai-nilai toleransi, malah menanam benih kebencian. Perlu ada langkah taktis-sistematis untuk menghadirkan solusi atas bencana intoleransi dari ranah pendidikan, dari jantung ke-Indonesia-an kita.

Menghadirkan pendidikan yang menebarkan cinta kasih dan program-program silaturahim gagasan sekaligus saling mengenal antar-komunitas lintas agama-budaya, menjadi mutlak diperlukan.

Api kebencian dari dunia pendidikan harus dipadamkan dan disiram dengan nilai-nilai cinta kasih serta kepedulian pada sesama. Indonesia membutuhkan pendidik yang menawarkan sejuknya toleransi dan perdamaian, bukan mengobarkan kebencian. 


Terkini Lainnya

Banjir di Kembangan Utara karena Kali Angke Belum Sepenuhnya Diturap

Banjir di Kembangan Utara karena Kali Angke Belum Sepenuhnya Diturap

Megapolitan
Hulu Kali Angke Siaga II, Kembangan Utara Tergenang hingga 50 Cm

Hulu Kali Angke Siaga II, Kembangan Utara Tergenang hingga 50 Cm

Megapolitan
Presiden Venezuela Tuduh AS Berencana Membunuh Dirinya

Presiden Venezuela Tuduh AS Berencana Membunuh Dirinya

Internasional
Kasus Suap Hakim, KPK Periksa Bupati Jepara dan Hakim PN Semarang

Kasus Suap Hakim, KPK Periksa Bupati Jepara dan Hakim PN Semarang

Nasional
Isu Pembubaran BP Batam Sudah Sejak 2015, Ini Sebabnya Masih Tetap Berdiri

Isu Pembubaran BP Batam Sudah Sejak 2015, Ini Sebabnya Masih Tetap Berdiri

Regional
Kamis Malam Ini, KPU Gelar Pertemuan Bersama Parpol Bahas DPT

Kamis Malam Ini, KPU Gelar Pertemuan Bersama Parpol Bahas DPT

Nasional
13 Desember 1957, Deklarasi Juanda Jadi Titik Balik Kelautan Indonesia

13 Desember 1957, Deklarasi Juanda Jadi Titik Balik Kelautan Indonesia

Nasional
BP Batam Diisukan Dibubarkan, Pekerjanya Tetap Tenang hingga Bantahan Menko Darmin

BP Batam Diisukan Dibubarkan, Pekerjanya Tetap Tenang hingga Bantahan Menko Darmin

Regional
Jelang Berakhirnya Pemutihan Pajak, Antrean Panjang Terjadi di Kantor Samsat Jaksel

Jelang Berakhirnya Pemutihan Pajak, Antrean Panjang Terjadi di Kantor Samsat Jaksel

Megapolitan
Jakarta Satu, Upaya Pemprov DKI Jakarta Cegah Korupsi

Jakarta Satu, Upaya Pemprov DKI Jakarta Cegah Korupsi

Megapolitan
Kubu Prabowo Yakin Menangkan Pilpres jika Kuasai Jawa Tengah

Kubu Prabowo Yakin Menangkan Pilpres jika Kuasai Jawa Tengah

Nasional
Pengeroyokan Anggota TNI yang Berakhir Kericuhan di Polsek Ciracas...

Pengeroyokan Anggota TNI yang Berakhir Kericuhan di Polsek Ciracas...

Megapolitan
Untuk Bangun Rumahnya yang Terbakar, Pria Ini Bobol Lab Komputer Sekolah di 3 Kota

Untuk Bangun Rumahnya yang Terbakar, Pria Ini Bobol Lab Komputer Sekolah di 3 Kota

Regional
Polri Tegaskan Tangani Pelaku Perusakan Polsek Ciracas secara Profesional

Polri Tegaskan Tangani Pelaku Perusakan Polsek Ciracas secara Profesional

Nasional
Tiga Truk APK Dibongkar Bawaslu Siantar, Golkar Protes

Tiga Truk APK Dibongkar Bawaslu Siantar, Golkar Protes

Regional

Close Ads X