Eka Kurniawan Raih Penghargaan Sastra Internasional di Belanda - Kompas.com

Eka Kurniawan Raih Penghargaan Sastra Internasional di Belanda

Kompas.com - 07/12/2018, 22:21 WIB
Eka Kurniawan Meraih Penghargaan Prince Claus Awards 2018Dok. Frank van Beek / Pontas Agency Eka Kurniawan Meraih Penghargaan Prince Claus Awards 2018

KOMPAS.com - Kabar membanggakan, penulis Eka Kurniawan meraih penghargaan Prince Claus Awards 2018 kategori Sastra/Literatur, di Belanda (6/12/2018).

Penghargaan tahunan ini diberikan kepada individu, kelompok, atau organisasi bergerak di bidang kebudayaan yang karyanya memberikan dampak positif pengembangan masyarakat di Afrika, Asia, Amerika Latin dan Karibia.

Berdasarkan keterangan panitia Prince Claus Award, Eka Kurniawan terpilih karena kemampuannya menarasikan kisah-kisah imajinatif lewat keindahan prosa dan juga universalitas materinya.

Perlawanan terhadap pembungkaman

 

Eka, penulis kelahiran 28 November 1975 di Tasikmalaya ini dianggap mampu memberikan perlawanan terhadap tindakan politik sewenang-wenang dan membawa isu-isu sosial dalam bentuk yang akrab dengan masyarakat.

Penulis yang pernah mengenyam pendidikan filsafat Universitas Gadjah Mada ini juga dinilai mampu membentuk pemahaman sejarah di masyarakat guna membangun persepsi tentang sebuah negara dengan lebih baik.

Tidak hanya itu, Eka juga dinilai berhasil mengangkat budaya Indonesia lewat penceritaan kembali kisah dan mitologi lokal yang selama ini mulai terabaikan.

Baca juga: Pelajaran Menulis Paling Berharga dari Peraih Nobel Sastra VS Naipaul

 

Ia menggunakan kekuatan sastra dan literatur sebagai penyampai topik-topik krusial terutama dalam masa-masa ketika kebebasan berpendapat banyak dibungkam.

Dan terakhir, pengagum karya karya-karya Pramoedya Ananta Toer ini berhasil menarik perhatian dunia dengan menyampaikan sejarah Indonesia alternatif yang berdampak pada meningkatnya kesadaran dan pemahaman terhadap Indonesia.

Karya novel dan kumpulan cerpen

Novel pertamanya "Cantik Itu Luka" telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa, sementara novel keduanya, "Lelaki Harimau" telah diterbitkan dalam bahasa Inggris, Italia, Korea, Jerman dan Prancis.

Novel keduanya ini juga berhasil mengantar Eka Kurniawan ke jajaran sastrawan dunia, sehingga pada 2015 Jurnal Foreign Policy menobatkannya sebagai salah satu dari 100 pemikir paling berpengaruh di dunia karena berhasil menegaskan posisi Indonesia di peta kesusastraan dunia.

Pada Maret 2016, "Lelaki Harimau" berhasil mencatatkan prestasi sebagai buku Indonesia pertama dinominasikan di ajang penghargaan sastra bergengsi dunia, "The Man Booker International Prize

Beberapa kumpulan cerpen karya Eka Kurniawan yakni: "Corat-Coret di Toilet" (2000), "Gelak Sedih" (2005), "Cinta Tak Ada Mati" (2005). Sedangkan novel Eka Kurniawan yang diterbitkan di antaranya; "Cantik Itu Luka" (2002), "Lelaki Harimau" (2004), "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas" (2014), dan "O" (2016).

Penggerak kebudayaan bidang lain

Tercatat 213 orang diundang secara resmi mengajukan diri sebagai nominasi Prince Claus Awards 2018. Sejumlah 85 di antaranya diterima dan diseleksi kembali Biro Prince Claus Awards.

Mereka terpilih selanjutnya diundang menerima penghargaan pada sebuah upacara formal di Royal Palace, Amsterdam, di hadapan anggota keluarga kerajaan dan tamu-tamu dari seluruh dunia.  

Selain Eka Kurniawan, beberapa nama lain menerima Prince Claus Awards 2018, yaitu Adong Judith (Uganda) untuk bidang Teater, Marwa al-Sabouni (Syria) untuk kategori Arsitektur dan Urbanisme, Kidlat Tahimik (Filipina) untuk Visual Arts/Film.

Ada pula O Menelick 2º Ato (Brasil) untuk kategori Media/Jurnalistik, sementara Market Photo Workshop (Afrika Selatan) meraih Principal Prince Claus Award 2018 bidang Fotografi, dan Dada Masilo (Afrika Selatan) meraih Next Generation Award 2018 untuk bidang Tari.


Terkini Lainnya


Close Ads X