Desa dan "Jas Merah" yang Tertinggal...

Kompas.com - 15/12/2018, 16:27 WIB
Asep Kambali dan Goris Mustaqim berbagi pandangan tentang sejarah dan pembangunan desa kepada 489 siswa peserta Apresiasi Siswa Berprestasi (ABS) 2018 yang diadakan Direktorat Pembinaan SMA (PSMA) Kemendikbud (14/12/2018) di Jakarta. Dok. Direktorat PSMAAsep Kambali dan Goris Mustaqim berbagi pandangan tentang sejarah dan pembangunan desa kepada 489 siswa peserta Apresiasi Siswa Berprestasi (ABS) 2018 yang diadakan Direktorat Pembinaan SMA (PSMA) Kemendikbud (14/12/2018) di Jakarta.

KOMPAS.com - Pelajaran sejarah dan membangun desa. Kedua hal ini nampaknya menjadi hal yang 'tertinggal', kalau tidak boleh dikatakan terlupakan, oleh generasi milenial saat ini.

Pelajaran sejarah kerap dianggap sebagai beban dan bukan menjadi pelajaran favorit lantaran hanya mengajarkan hafalan dan kurang kontekstual dengan keseharian siswa. Terkesan kuno. Masih adakah yang melihat 'sejarawan' sebagai sebuah profesi yang keren?

Pun demikian dengan desa juga kurang terlihat 'seksi' sebagai pilihan milenial untuk dijadikan tempat mencari mata pencarian. Seolah tidak dapat diharapkan dan 'ndeso'.

Kombinasi keduanya, belajar sejarah di desa gersang dan terpencil? Mengambil istilah milenial kekinian: kelar hidup lo...

Baca juga: ASB 2018: Mengembangkan Karakter dan Kompetensi Menuju Indonesia 4.0

Namun stigma kedua hal justru hendak diruntuhkan Asep Kambali (sejarawan dan pendiri Komunitas Historia Indonesia) dan Goris Mustaqim (wirausahawan muda dan pengembangan komunitas).

Mereka berbagi pandangan kepada 489 siswa peserta Apresiasi Siswa Berprestasi (ABS) 2018 yang diadakan Direktorat Pembinaan SMA (PSMA) Kementerian Pendidikan Kebudayaan ( Kemendikbud) pada 14 Desember 2018 di Jakarta.

Sejarah yang menghidupkan

"Untuk menghancurkan suatu bangsa, musnahkan ingatan sejarah generasi mudanya," demikian pesan disampaikan Asep Kambali akan arti penting sejarah dalam proses perkembangan sebuah bangsa.

Ia menyayangkan pelajaran sejarah yang menjadi kurang menarik di mata siswa lantaran guru kurang kreatif dalam mengolah proses pembelajaran. "Guru sejarah tidak bisa hanya mengandalkan buku teks yang sama dengan buku teks siswa. Guru sejarah harus banyak menggali materi agar bisa membuat pelajaran sejarah menjadi menarik minat siswa," ujarnya.

Guru sejarah harus kreatif dan jangan terjebak birokrasi, tegas Asep sambil mengingatkan pesan Bapak Pendiri Bangsa Bung Karno, "Jas Merah", Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah.

Ia melihat sejarah memiliki 2 peran; pertama sebagai pondasi sebuah bangsa dan kedua sekaligus sebagai petunjuk masa depan.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X