Kompas.com - 07/01/2019, 20:39 WIB
Deklarasi Anti Ekstrimisme dan Radikalisme di CFD Jakarta (6/1/2019) merupakan bagian dari rangkaian acara Convey Festival #MeyakiniMenghargai, yang sebelumnya telah terlaksana di Yogyakarta dan Makassar, 9 dan 16 Desember 2018. Dok. Convey FestivalDeklarasi Anti Ekstrimisme dan Radikalisme di CFD Jakarta (6/1/2019) merupakan bagian dari rangkaian acara Convey Festival #MeyakiniMenghargai, yang sebelumnya telah terlaksana di Yogyakarta dan Makassar, 9 dan 16 Desember 2018.

KOMPAS.com - Lima remaja naik ke atas panggung bertuliskan Convey Festival #MeyakiniMenghargai di area Car Free Day (CFD), Jalan Sudirman, Jakarta, lalu secara serempak menyatakan deklarasi "Anti Ekstrimisme dan Radikalisme" (6/1/2019).

Deklarasi ini kemudian diikuti lebih dari seratus generasi milenial lain di bawah panggung dengan antusias.

Deklarasi ini merupakan bagian dari rangkaian acara Convey Festival #MeyakiniMenghargai, yang sebelumnya telah terlaksana di Yogyakarta dan Makassar, 9 dan 16 Desember 2018.

“Sudah banyak riset dan survei yang menunjukkan adanya peningkatan tingkat intoleransi dan radikalisme di berbagai kalangan masyarakat, terutama kalangan muda. Jadi sudah bukan sebatas guliran isu saja. Berita ini perlu ditindaknyata," ujar Project Officer Convey Festival #MeyakiniMenghargai, Hani Samantha melalui rilis yang diterima Kompas.com.

Baca juga: Wapres JK Mendorong Masjid Kampus Dapat Tangkal Paham Radikalisme

Ia menambahkan, sebagian kita masih menilai biasa-biasa saja sekedar penyebaran ujaran kebencian dan eksklusivism.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tanpa kita tahu dampak setelahnya pada orang yang kita hakimi berbeda dan menjadikan kita berani melakukan tindakan kekerasan terhadap mereka, tanpa kita tahu pula bahwa dampaknya lebih besar yakni meruntuhkan keharmonisan bangsa yang lahir di atas keberagaman,” tegasnya.

Hani menyapampaikan, isu nir-toleransi dan ekstremisme dalam beberapa tahun belakangan makin merebak. Kejadian bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga di markas polisi di Jawa Timur tahun lalu makin menguatkan bahwa isu ektremisme dengan kekerasan di negeri ini bukan sekadar isapan jempol.

Convey Indonesia sendiri merupakan program diselenggarakan PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat) UIN Jakarta dan UNDP (United Nations Development Program) bekerjasama dengan beragam komunitas dan organisasi penggerak perdamaian.

Program ini bertujuan mencegah ekstremisme kekerasan di Indonesia melalui serangkaian riset-survei, advokasi kebijakan dan interaksi publik yang berbasis pada potensi pendidikan agama. Program Convey Indonesia menyentuh isu-isu toleransi, kebhinekaan dan nir-kekerasan di kalangan generasi muda.

Survei Keberagamaan dilaksanakan PPIM pada 2017 menemukan 37,71% responden memaknai Jihad sebagai perang. Bahkan, sepertiga responden berpendapat jika orang murtad itu harus dibunuh dan 33,34% responden merasa bahwa tindakan intoleran kepada mereka yang berbeda keyakinan tidak masalah.

Melihat data yang mengejutkan ini Convey Indonesia berinisiatif mengadakan berbagai kegiatan untuk mengampanyekan secara masif pesan perdamaian dan toleransi antar sesama tanpa memandang perbedaan yang ada.

Salah-satu kegiatan tersebut adalah Convey Festival #MeyakiniMenghargai dengan salah satu rangkaian roadshow menyambangi area-area CFD di beberapa kota.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.