Mahasiswa ITB Wakili Indonesia dalam Kompetisi Debat Dunia di Afsel

Kompas.com - 08/01/2019, 18:39 WIB
Mahasiswa ITB, Ahmad Kusbay dan Vincentius Michael berhasil meraih gelar Grand Finalist dalam ajang World University Debating Championship (WUDC) 2018 di Cape Town, Afrika Selatan (4/1/2019).Dok. ITB Mahasiswa ITB, Ahmad Kusbay dan Vincentius Michael berhasil meraih gelar Grand Finalist dalam ajang World University Debating Championship (WUDC) 2018 di Cape Town, Afrika Selatan (4/1/2019).

KOMPAS.com - Mahasiswa Institut Teknologi Bandung ( ITB), Ahmad Kushay dan Vincentius Michael berhasil meraih gelar Grand Finalist dalam ajang "World University Debating Championship (WUDC) 2018" di Cape Town, Afrika Selatan.

Keduanya mewakili Indonesia pada ajang WUDC yang merupakan kompetisi debat parlementer tingkat dunia dan diselenggarakan setiap tahun sejak 1980 oleh World Universities Debating Union.

Tahun ini, kompetisi bergengsi ini diikuti 276 tim dari berbagai negara dunia dan dilaksanakan di Afrika Selatan.

Pada kategori English as Foreign Language (EFL) yang merupakan satu dari tiga kategori dilombakan, tim Indonesia mulus melaju dari tahap penyisihan, semifinal, hingga final yang belamgsung tanggal 27 Desember 2018 hingga 4 Januari 2019.

Sebelumnya, Ahmad Kushay dan Vincentius Michael terlebih dahulu mengikuti serangkaian kompetisi tingkat nasional "National University Debating Championship (NUDC)" pada 15-21 Agustus 2018.

Baca juga: [KLARIFIKASI] Kabar Ratusan Mahasiswa Indonesia Kerja Paksa di Taiwan

Pada tingkat nasional mereka menyabet juara 2 dari 112 tim yang bertanding. Sebagai bentuk apresiasi, Kemenristekdikti memberangkatkan mereka sebagai perwakilan Indonesia untuk tingkat internasional.

“Saya secara pribadi tertarik kedalam debat parlementer karena ingin mengabdi ke kampus dengan cara mengharumkan nama ITB di ranah nasional dan internasional,” ungkap Kushay seperti dikutip dari laman berita ITB.

Selain itu, motivasi Kushay mengikuti ajang tersebut karena kesukaannya terhadap diskusi intelektual tentang isu sosial.

Format debat British Parliamentary berbeda biasanya. Di mana empat tim masing-masing terdiri atas dua orang mendebatkan suatu mosi, membuat mereka harus memiliki pengetahuan luas serta kerjasama yang baik.

“Untuk menghadapi kompetisi ini, kami melakukan sejumlah persiapan. Dalam menggodok wawasan topik, kami membaca berbagai artikel dari majalah dan media seperti The Economist, The Atlantic, Aeon, New York Times, dan lainnya," kata Kushay.

Tak hanya itu, keduanya juga melakukan latihan-latihan jenis lain seperti latihan kemampuan berbicara, komunikasi, dan kerjasama. Adanya dua tim yang menjadi proposisi serta dua tim yang menjadi oposisi saat debat, memiliki kesulitan tersendiri dalam membuktikan bahwa argumen mereka adalah yang terbaik.

Walaupun belum meraih gelar Champion, Kushay mengungkapkan bahwa kompetisi ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan bisa berguna di masa depan.




Close Ads X