Klinik Digital Vokom UI: "Madu dan Racun" Teknologi "3D Printing"

Kompas.com - 09/01/2019, 19:33 WIB
Klinik Digital Vokasi Komunikasi UI menggelar seminar Industry 4.0: What?s The future of 3D Printing? di @merica, Jakarta (5/1/2019).Dok. Vokasi UI Klinik Digital Vokasi Komunikasi UI menggelar seminar Industry 4.0: What?s The future of 3D Printing? di @merica, Jakarta (5/1/2019).

KOMPAS.com - Bertempat di Pusat Kebudayaan Amerika Serikat, @merica, Jakarta, pendiri Klinik Digital Vokasi Komunikasi UI, Devie Rahmawati bersama Stanley Wangsadiharja (Saft7Robotics & Form O), Wadi (SWE) memaparkan informasi tentang Industry 4.0: "What’s The future of 3D Printing?"

Kegiatan ini juga didukung dengan presentasi produk 3D printing buatan anak bangsa Indonesia, BikinBot.

“Teknologi 3D printing bukanlah teknologi masa depan (future), tetapi teknologi saat ini (now). Berbagai industri telah memperoleh manfaat dari kehadiran teknologi yang memungkinkan terjadinya desentralisasi produksi," ujar Devie Rahmawati. 

Ia menambahkan dengan teknologi 3D pinting akan terjadi proses pelestarian lingkungan karena barang yang diproduksi benar-benar sesuai dengan permintaan ada.

"Tidak ada lagi produksi massal produk, yang kemudian menjadi boros dan membutuhkan ruang penyimpanan yang besar,” ujar alumni DAAD Jerman ini.

“Madu (manfaat) lain dari teknologi ini ialah akan melahirkan banyak sekali pekerjaan baru diantaranya para seniman yang akan memiliki kesempatan untuk menghasilkan ide-ide yang dapat langsung dieksekusi untuk diproduksi dengan mesin 3D printing, yang di Negara Barat sudah dimiliki di level rumah tangga," jelas Devie.

Baca juga: Tertarik Masuk UI? Simak 15 Info Terbaru dari UI Ini...

Dibutuhkan juga lebih banyak ahli yang menguasai mesin untuk perawatan mesin dan terus menciptakan mesin dan aplikasi desain 3D Printing, ujarnya.

“Dari sederetan manfaat mesin ini, 3D Printing juga memiliki peluang menebar racun (kerugian) bila dimanfaatkan dengan motif tidak produktif. Sebagai contoh, ke depan makanan pun dapat dicetak sesuai dengan keinginan konsumen, dimana barang haram seperti narkoba sekalipun dapat diprint sesuai dengan target pasar misalnya bentuk unik bagi target anak-anak," jelas Devie yang juga Kepala Program Studi Vokasi Komunikasi UI.

Ditambah produksi senjata tajam atau senjata api seperti pistol dan lainnya. Persoalan keamanan dan kesehatan dari produk yang dapat diproduksi secara mandiri oleh manusia, menjadi tantangan lain sebagaimana persoalan hak cipta terhadap sebuah produk.

Ditambah potensi 'tsunami sosial' dari teknologi ini yang membuat setiap individu semakin individualistis. Diprediksi dengan semakin mandirinya seseorang, akan mendorong semakin banyak manusia yang merasa kesepian yang dapat berujung pada peningkatan angka bunuh diri.

"Studi menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, kematian yang diakibatkan penyakit karena kurang bergerak dan bunuh diri dibandingkan kematian akibat perang. Teknologi ini berpeluang terus meningkatkan trend tersebut ” ujar Devie.

Stanley menyampaikan bahwa dia bersama timnya telah memanfaatkan teknologi ini untuk merancang banguan berbagai desain arsitektural. Sedangkan Wadi memaparkan bagaimana dunia kesehatan, seperti kesehatan gigi yang sudah cukup maju memanfaatkan teknologi 3D Printing untuk kenyamanan pasien.


Terkini Lainnya



Close Ads X