Kompas.com - 14/01/2019, 23:10 WIB
Tim ITS berhasil menyabet first runner up dalam kompetisi National Bridge Competition di Universitas Gadjah Mada (28/10/2018) lewat desain Jembatan Ombak. Dok. ITSTim ITS berhasil menyabet first runner up dalam kompetisi National Bridge Competition di Universitas Gadjah Mada (28/10/2018) lewat desain Jembatan Ombak.

KOMPAS.com - Mendesain jembatan khusus pejalan kaki memberikan tantangan tersendiri. Pasalnya, disamping faktor estetis, rancangan juga harus mempertimbangkan ketepatan dan kekokohan jembatan.

Tantangan inilah yang berusaha dipecahkan 3 mahasiswa dari Departemen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Atas idenya, tim ITS berhasil menyabet first runner up dalam kompetisi "National Bridge Competition" di Universitas Gadjah Mada (28/10/2018).

Kompetisi rancang bangun jembatan berskala nasional tersebut menantang peserta mendesain jembatan inovatif sekaligus estetis untuk diterapkan di Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta.

Tim ITS beranggotakan Rain Sultan Al Hadiid, Nugraha Alfanda Wildan serta Cita Nanda Kusuma mencetuskan ide menggunakan desain ornamen ombak sebagai tema jembatan.

Baca juga: Mantan Rektor Universitas Telkom Pimpin ITS Surabaya

Rain Sultan Al Hadiid menjelaskan, desain ombak sengaja dipilih karena menunjukkan ciri khas geografis dari Kabupaten Kulon Progo. Menurutnya, untuk menonjolkan ikon dari suatu daerah tidak harus diangkat dari kebudayaan setempat, sebagaimana yang dilakukan banyak tim lain.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Kebanyakan tim memilih ornamen batik sebagai ikon Kulon Progo yang ingin diangkat, jadinya malah terlihat mainstream karena banyak yang pakai,” jelas Sultan seperti dikutip dari laman resmi ITS (14/1/2019).

Dalam desain jembatannya, lanjut Sultan, timnya menyertakan elemen pemecah gelombang berupa struktur beton berkaki empat atau tetrapod.

Diakuinya, struktur beton ini memang lebih banyak digunakan pada jembatan pejalan kaki dibandingkan untuk jembatan penyebrangan kendaraan bermotor.

“Sesuai dengan fungsinya, rancangan ini juga dilengkapi dengan pengaman berupa pegangan di sepanjang jembatan,” ujar mahasiswa angkatan 2017 ini.

Disamping unggul dari segi desain, jembatan karya tim Gareng 86 ini juga unggul dalam aspek efisiensi segmen. Sultan mengaku timnya hanya memerlukan 4 buah segmen untuk merakit jembatannya.

Jumlah ini sekaligus tercatat sebagai penggunaan segmen paling sedikit diantara tim lain. Adapun waktu yang diperlukan untuk merampungkan rakitan jembatannya ini juga terbilang singkat, hanya sekitar dua setengah jam saja.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.