"Memedi Sawah", Ketika Kita Menjadi Manusia Intoleran - Kompas.com

"Memedi Sawah", Ketika Kita Menjadi Manusia Intoleran

Kompas.com - 12/02/2019, 14:25 WIB
Ilustrasi. Memedi SawahDok. Bentara Budaya Jakarta Ilustrasi. Memedi Sawah

KOMPAS.com - Perupa Hari Budiono akan memamerkan sepilihan karya terbaru dalam pameran bertajuk “Memedi Sawah” di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) pada 14 Februari 2019 mendatang.

Sejumlah 10 karya lukis berikut sebuah karya instalasi dihadirkan sebagai refleksi yang mencoba merespon situasi terkini di negeri ini. Lebih khusus, Hari Budiono menambahkan bahwa Memedi Sawah dimaknai sebagai simbol teror dalam kondisi kontemporer negeri ini.

Memedi atau orang-orangan sawah mulanya berfungsi sebagai penghalau hewan hama pengganggu  tanaman. Tapi, melalui pameran ini Hari Budiono ingin mengetengahkan perumpamaan bahwa kini justru sang penjagalah yang menjadi pengganggu dalam suatu lingkungan.

Perlawanan terhadap teror

“Memedi Sawah menjadikan kita saling curiga, saling membenci, saling tak menghargai, selalu merasa menang dan benar sendiri, sehingga kita menjadi manusia intoleran,” ujarnya.

Baca juga: Bentara Solo Tampilkan Orkes Keroncong Pandawa

Simak saja misalnya karya instalasi bertajuk “Jangan Takut Memedi Sawah“, terdiri dari 115
orang-orangan sawah yang memegang lukisan wajah tokoh sedang tertawa dan syair lagu
Ibu Pertiwi.

Ini dimaknai sebagai perlawanan terhadap teror yang dilakukan oleh para memedi sawah. “Memedi Sawah itu jadi tidak menakutkan lagi, mereka telah tertawa dengan tawa manusia Indonesia, mulai dari presiden sampai rakyat biasa," ungkap GP Sindhunata, kurator Bentara Budaya, dalam tulisannya tentang pameran ini.

Ia menambahkan, "Memang, ketakutan sosial hanya bisa dikalahkan dengan tertawa bersama-sama. Ketakutan itu memecah belah, sedangkan tertawa itu menyatukan.” 

Meruwat kehidupan

Ilustrasi. E-poster Pameran Seni Rupa BBJDok. Bentara Budaya Jakarta Ilustrasi. E-poster Pameran Seni Rupa BBJ

Pengamat seni dan juga kurator Bentara Budaya, Efix Mulyadi menambahkan langkah kreatif Hari Budiono boleh ditafsirkan sebagai upaya meruwat kehidupan bersama yang terus menerus terancam "memedi sawah masa kini" yang bermunculan dari segala penjuru.

Di sisi lain, 10 karya lukisannya turut pula menjadi cerminan kritik sosial sang perupa atas situasi yang berkembang di masyarakat.

Selain dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta pada 14 – 23 Februari 2019, karya-karya Memedi Sawah juga akan dihadirkan di Bentara Budaya Bali (2-9 Maret 2019), Solo (14-20 Maret 2019), dan Yogyakarta (23-30 Maret 2019). Khusus untuk di Jakarta, pameran akan diresmikan oleh Inaya Wahid.

Tentang Hari Budiono

Hari Budiono merupakan lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa “ASRI“ Yogyakarta tahun 1985. Ketika tahun 1982 Jakob Oetama mendirikan Bentara Budaya di Yogyakarta, bersama Sindhunata, GM Sudarta, JB Kristanto, Hajar Satoto, dan Ardus M Sawega, dia menjadi pelaksana angkatan pertama.

Ia pernah menjadi wartawan Majalah Bergambar Jakarta-Jakarta (1986–1989 dan 1993–1994), serta menjadi redaktur foto Harian Bernas Yogyakarta (1990–1993).

Hari Budiono juga menulis feature dan liputan budaya untuk media Tabloid Citra, Majalah Intisari, The Jakarta Post, dan Harian Kompas.

Saat ini Hari Budiono menjadi kurator Bentara Budaya, lembaga kebudayaan milik Kompas Gramedia.



Close Ads X