Kompas.com - 20/02/2019, 07:30 WIB
Najelaa Shihab, praktisi pendidikan dan pendiri SMSG (komunitas Satu Murid Satu Guru) dalam seminar Parenting & Millennial Teaching Workshop di Jakarta (18/2/2019). Dok. SMSGNajelaa Shihab, praktisi pendidikan dan pendiri SMSG (komunitas Satu Murid Satu Guru) dalam seminar Parenting & Millennial Teaching Workshop di Jakarta (18/2/2019).

KOMPAS.com - HDI (PT Harmoni Dinamik Indonesia) dan SMSG (komunitas Satu Murid Satu Guru) menggelar seminar "Parenting & Millennial Teaching Workshop" di Jakarta (18/2/2019) melibatkan guru dan pemerhati pendidikan dari jaringan SMSG dan masyarakat peduli pendidikan.

Di ambang Revolusi Industri 4.0, Indonesia masih memiliki masalah dalam mengelola sumber daya manusia.

Ketika persaingan global menuntut orang untuk memiliki kecakapan pengelolaan teknologi tinggi, berdasarkan data SMSG wajah pendidikan Indonesia masih dihantui dengan fakta bahwa ada 13 juta anak tidak mengenyam pendidikan dan 187 ribu anak putus sekolah.

Baca juga: SMA Selamat Pagi Indonesia, Inspirasi Kolaborasi Pendidikan Indonesia

Kondisi darurat pendidikan coba diangkat dalam forum seminar yang diadakan SMSG dan HDI ini dengan harapan akan mendapat masukan dan solusi dari berbagai pihak.

3 soal utama pendidikan

Masalah keterbatasan pendidikan umumnya berakar dari kemiskinan dan merupakan masalah sangat rumit karena terkait dengan masalah besar lain seperti kurangnya akses asupan makanan bergizi, kurangnya akses terhadap informasi, dan masalah besar lainnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ada 3 persoalan utama pembangunan di bidang pendidikan yang diangkat dalam seminar pendidikan tersebut yaitu akses, kualitas dan pemerataan. 

Najelaa Shihab, praktisi pendidikan dan pendiri Semua Murid Semua Guru (SMSG) yang menjadi pembicara dalam "Parenting & Millenial Teaching Workshop"  menyebutkan perbaikan akses memang  memberi kesempatan anak untuk sekolah, tetapi saat berada di ruang kelas mereka dijejali informasi yang seharusnya mudah didapat dengan teknologi atau demi mengungkit data statistik di permukaan.

5 prinsip pemberdayaan pendidikan

“Kualitas belum mempercakapkan kebutuhan asasi manusia, pengembangan individu yang utuh untuk menjawab kebutuhan abad 21, atau memupuk insan yang siap berkontribusi bagi dan dari negeri ini. Pemerataan yang diupayakan dalam kenyataannya kerap kekurangan sumber daya atau terjebak dalam sistem penganggaran,” ungkap Najelaa Shihab.

Lebih lanjut lagi, Najelaa memberikan beberapa prinsip yang harus diimplementasikan dalam usaha memberdayakan pendidikan, di antaranya:

1. Menciptakan proses belajar sepanjang hayat

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.