Kompas.com - 20/02/2019, 11:22 WIB
Ilustrasi botol plastik. Wikimediacommons/EffeietssandersIlustrasi botol plastik.

KOMPAS.com - Jika ada, apakah kita mau menukar sampah daur ulang seperti botol air mineral dan kaleng minum alumunium dengan sebuah buku?

Kelihatannya hanya sebuah ide idealis, namun program ini ditawarkan salah satu penjual buku di Italia kepada anak-anak. Melalui program ini, penjual buku berharap akan menjadi cetak biru untuk meningkatkan kesadaran lingkungan sambil menumbuhkan kecintaan membaca di saat yang bersamaan.

Di selatan kota Polla, Italia proyek ini memberikan buku yang bisa dibeli oleh anak di bawah 14 tahun dengan menukarkan satu botol plastik kosong dan satu kaleng aluminium.

Baca juga: Film Aquaman, Sampah, dan Generasi Tidak Peduli

Dilansir dari World Economic Forum (WEF), pendiri toko buku Michele Gentile menganggap buku-buku yang disumbangkan sebagai libri sospesi atau "buku yang ditunda," sebuah gagasan yang dibangun berdasarkan tradisi Perang Dunia II di mana pelanggan warung kopi membayar dua kopi, yang kedua sebagai hadiah anonim untuk orang berikutnya yang membutuhkan.

"Saya harap inisiatif ini menjadi sangat viral sehingga mempengaruhi seluruh dunia," harap Gentile.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Toko buku di Italia ini menukar sampah botol plastik dan kaleng minuman dengan buku bagi anak berusia di bawah 14 tahun.Dok. WEF/Laman FB Ex Libris cafè Toko buku di Italia ini menukar sampah botol plastik dan kaleng minuman dengan buku bagi anak berusia di bawah 14 tahun.

Ide Gentile dibangun atas kesadaran yang berkembang akan plastik sekali pakai dan dampaknya yang merusak lingkungan. Berdasarkan data White Paper WEF, kemasan plastik menyumbang 26 persen dari total pasar plastik.

Meskipun manfaatnya mencakup kenyamanan dan efisien, sebagian besar dirancang untuk sekali dan hanya sekitar 14 persen yang dapat dikumpulkan untuk didaur ulang.

Dampaknya pada planet ini: sampah plastik membutuhkan waktu hingga 500 tahun untuk dapat terdaur ulang alami dan sekitar 8 juta ton berakhir di lautan setiap tahun. 

"Bayangkan ini menjadi menjadi permainan yang mendunia: setiap anak di seluruh dunia menukarkan botol plastik dan kaleng minuman dengan buku. Ini akan berdampak tidak saja bagi mereka sekarang namun juga untuk masa depan mereka," jelas Gentile.

Ia menambahkan, "Aku tahu ini hanya mimpi, tapi mengapa tidak dilakukan?"

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.