Kompas.com - 05/03/2019, 18:38 WIB
Dr. David Bond (Dosen Senior Accounting Discipline Group University of Technology Sydney), dan Dr. Hendang Tanusdjaja CPA (Aust.) (Mitra Pengelola, Darmawan Hendang Kaslim & Rekan) dalam acara Media Briefing Masa Depan Akuntansi : Batasan Baru, Teknologi, dan Keamanan Siber yang diselenggarakan atas kerjasama University of Technology Sydney & Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) (28/2/2019). Dok. UTS InsearchDr. David Bond (Dosen Senior Accounting Discipline Group University of Technology Sydney), dan Dr. Hendang Tanusdjaja CPA (Aust.) (Mitra Pengelola, Darmawan Hendang Kaslim & Rekan) dalam acara Media Briefing Masa Depan Akuntansi : Batasan Baru, Teknologi, dan Keamanan Siber yang diselenggarakan atas kerjasama University of Technology Sydney & Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) (28/2/2019).

 

KOMPAS.com - Era Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan mahadata (big datadan kecerdasan buatan (artificial intelligence) menjadi tantangan bagi ilmu akuntansi di masa mendatang.

Bila tidak beradaptasi terhadap perubahan cepat yang terjadi, peran lulusan ilmu akuntansi dapat tergantikan dengan learning mechine dan otomatisasi.

Dari segi kuantitas, menurut studi International Academic Institutefor Science and Technology , Indonesia masih membutuhkan lebih dari 200.000 akuntan profesional.

Kenyataannya, saat ini Indonesia hanya memiliki sekitar 10.000 akuntan professional. Masalah ini akan menimbulkan risiko di masa depan jika dibiarkan berlanjut. 

Riset ini diperkuat dengan hasil studi tahun 2018 dari Universitas Negeri Malang di mana masih terdapat kekurangan lulusan akuntansi yang bergabung dengan 500 firma akuntan publik di Indonesia.

Tantangan ilmu akuntansi

"Di sisi lain, aspek tradisional akuntansi yang berkaitan dengan angka-angka telah begitu cepat diotomatisasi. Saat ini masa depan seorang akuntan sebagai penasihat bisnis terpercaya tetap cerah," kata  David Bond, dosen senior di University of Technology Sydney di sela-sela kunjungannya Indonesia untuk mengisi kegiatan kuliah dan berkolaborasi dengan Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) (28/2/2019).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Ironi Indonesia di Balik Gembar-gembor Revolusi Industri 4.0

Menjawab pertanyaan Kompas.com, Bond menjelaskan peranan akuntansi telah berkembang dari data input menjadi lebih efisien karena aspek-aspek tersebut sudah terotomatisasi.

Menurutnya, profesi akuntan masa depan tidak hanya akan berhitung dan mengerti teknologi, tetapi keterampilan interpersonal yang kuat akan menjadi penting. Inilah yang saat ini menjadi satu titik fokus pendidikan di UTS.

"Lulusan ilmu akuntansi saat ini perlu memiliki pemikiran kritis dan analisis dalam penggunaan angka, untuk merepresentasikan kejadian yang terjadi. Keterampilan seorang akuntan saat ini juga memerlukan interpersonal skill untuk bekerja dalam tim, skill dalam presentasi kepada jajaran petinggi perusahaan, menyiapkan laporan dengan wawasan yang dalam, dan benar-benar memahami bisnis," tegasnya.

Kunci sukses lulusan akuntansi

"Akuntan yang paling banyak diminati adalah mereka yang menawarkan nilai bisnis nyata dan pemahaman pelanggan yang mendalam. Mereka yang kuat dalam komunikasi, berpikir kritis, empati dan kreativitas dan mampu benar-benar memahami dan bermitra dalam bisnis," jelasnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.