Ide Unik Antar Mahasiswa ITB Juara Kompetisi "Low Carbon" di Jepang

Kompas.com - 17/03/2019, 20:13 WIB
Ivan Danny Dwi Putra, mahasiswa pascasarjana ITB jurusan Rancang Kota berhasil meraih peringkat pertama kompetisi Low Carbon Design di Kitakyushu, Jepang yang berlangsung 15 Februari sampai 1 Maret 2019.Dok. ITB Ivan Danny Dwi Putra, mahasiswa pascasarjana ITB jurusan Rancang Kota berhasil meraih peringkat pertama kompetisi Low Carbon Design di Kitakyushu, Jepang yang berlangsung 15 Februari sampai 1 Maret 2019.

KOMPAS.com - Delegasi mahasiswa Institut Teknologi Bandung ( ITB) kembali mengharumkan  nama Indonesia di kompetisi tingkat internasional. Ivan Danny Dwi Putra, mahasiswa pascasarjana ITB jurusan Rancang Kota berhasil meraih peringkat pertama kompetisi "Low Carbon Design" di Kitakyushu, Jepang yang berlangsung 15 Februari sampai 1 Maret 2019.

Keikutsertaan Ivan dalam lomba yang digelar Asian Institute of Low Carbon Design (AILCD) merupakan rangkaian acara dari program pertukaran pelajar yang sedang ia ikuti. Program tersebut adalah program diprakarsai Universitas Kitakyushu.
 
“Kegiatan ini banyak sekali rangkaiannya, termasuk juga Conference dan Workshop dengan topik Low Carbon. Lombanya juga termasuk dalam kegiatan tersebut,“ ungkap Ivan seperti dikutip dari laman berita ITB (12/4/2019).

Populasi rendah

Tujuan konferensi dan workshop ini adalah untuk mengumpulkan ide-ide brilian dari akademisi dalam menyelesaikan permasalahan di distrik Kitakyushu.

Baca juga: Beasiswa Juara: Dukungan Harian Kompas dan Avian Brands untuk Memajukan Pendidikan Indonesia

Sesuai tema lomba, Ivan beserta anggota tim mengusung ide Happy Sunday 7 - “A Virtual Planning Project of Sunday for the Elderly” . Ivan mampu bersaing bersama anggota tim dari berbagai negara Asia lain.

“Mungkin kedengarannya kurang nyambung ya, tapi sebenarnya kami justru melihat bahwa masalah polusi  tidak bisa diselesaikan dengan menambah-nambah sistem yang akhirnya akan menambah polusi juga,“ terang Ivan. 

Ia meyakini bahwa kelompok mahasiswa lain berpikir terlalu “besar”, mereka mengajukan proyek yang butuh banyak sistem, orang, dan ada keperluan untuk menambah sarana tambahan dari yang sudah ada.

Ini berbeda dengan ide tim dirinya yang merasa bahwa kota Wakamatsu dan Tobata telah cukup rendah emisi karbonnya, masalah kota itu justru terletak pada tingkat populasi yang rendah dan presentase orang lanjut usianya cukup besar.

Ide unik dan realistis

“Oleh karena itu, kami ingin agar orang lanjut usia di kota ini, yang masih luar biasa energik, bisa diberdayakan tanpa harus melibatkan sistem yang rumit dan tidak perlu ada penambahan populasi dari luar kota. Dengan itu, kami yakin emisi karbon akan tetap rendah bahkan menurun,” ujarnya.
 
Pemikiran tersebut tentu saja bukan asal cuap. Tim Ivan yakin ide mereka akan menjaga populasi tidak bertambah dan menciptakan kegiatan masyarakat kota yang tidak banyak melibatkan kendaraan berbahan bakar karbon, tetapi yang melestarikan lingkungan.
 
“Kegiatan yang dirancang oleh tim kami adalah edukasi, olahraga, pekan kebun, dan sejenisnya. Kami juga merancang kegiatan tersebut dengan memanfaatkan taman-taman kota yang mulai sepi pengunjung agar tetap terjaga dan lestari,” jelasnya dengan semangat.
 
Ide ini, diakui Ivan, sangat dikagumi oleh para juri. Mereka yang menilai tidak menyangka akan hadir ide unik dan diluar ekspetasi orang kebanyakan. 
 
“Saya juga awalnya tidak yakin kalau melihat tim-tim lain yang terasa lebih ‘wow’. Namun, ternyata juri semuanya positif, bagi mereka ide ini sangat kontekstual dan realistis juga unik,” ujar Ivan.
 
“Saran, Namanya kompetisi, faktor beruntung juga tidak bisa kita tiadakan,” pesan Ivan sebagai penutup.




Close Ads X