BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Inalum

Tanam Pohon dan Konservasi Lingkungan, Upaya Pencegahan Bencana Alam

Kompas.com - 28/03/2019, 14:00 WIB
Geopark Kaldera Danau Toba. Dok IstimewaGeopark Kaldera Danau Toba.
|

KOMPAS.com – Sebagai negara yang terletak tepat di tengah garis khatulistiwa, Indonesia dianugerahi berbagai macam keindahan alam. Mulai dari bervariasinya flora dan fauna, terbentangnya ribuan kepulauan, hingga luasnya hamparan hutan hujan tropis.

Namun, dari segala keindahan yang tedapat di negeri ini, tersembunyi pula berbagai ancaman berupa bencana alam. Terlebih, bila musim hujan datang.

Untuk 2019 sendiri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memprediksi bahwa bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor akan banyak terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada Januari hingga April, serta pada akhir tahun seiring tibanya musim hujan.

Berdasarkan keterangan BNPB seperti yang termaktub pada artikel Kompas.com, Rabu (2/1/2019), tanah longsor disebabkan oleh terganggunya kestabilan tanah atau batuan pada sebuah lereng.

Adapun beberapa faktor yang membuat tanah tersebut longsor, di antaranya adalah tingginya intensitas hujan, kemiringan tanah yang tidak dibarengi penghijauan, terjadinya pelapukan dan erosi, penebangan liar, dan sistem pertanian yang tidak memperhatikan kestabilan tanah.

Sementara itu, banjir bisa disebabkan oleh berkurangnya daerah resapan air dan kurang baiknya saluran pembuangan air di wilayah tertentu.

Lokasi penebangan liar di Desa Hariara Pintu, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Kamis (10/1/2019).KOMPAS.com/Tigor Munthe Lokasi penebangan liar di Desa Hariara Pintu, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Kamis (10/1/2019).

Pelestarian alam

Oleh karena itu, untuk menghindari bencana alam tersebut maka diperlukan tindakan preventif yang sesuai, misalnya dengan melaksanakan kegiatan pelestarian alam.

Ada banyak cara untuk melakukan pelestarian alam ini, contohnya mulai dari penanaman pohon hingga konservasi alam.

Untuk penanaman pohon, ada baiknya memilih jenis pohon yang dapat menyerap air dengan optimal, seperti pohon bambu dan pohon jati.

Asal tahu saja, pohon bambu mampu menyerap hingga 90 persen air hujan yang turun. Dengan 90 persen air yang terserap tersebut, secara otomatis akan menjadi sumber air yang bermanfaat di kemudian hari.

Sama seperti pohon bambu, pohon jati pun mampu menyerap air hujan dengan baik. Selain itu, kelebihan lainnya dari pohon jati adalah mampu menyimpan sumber air dalam jangka waktu yang lama sehingga akan bermanfaat saat musim kemarau.

Pohon bambu raksasa (Dendrocalamus giganteus Munro) adalah salah satu tanaman koleksi Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Jumat (19/5/2017). Kebun botani yang digagas oleh Prof C.G.C Reinwardt seorang botanis berkebangsaan Jerman sebagai tempat penelitian ini genap berusia 200 tahun.KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Pohon bambu raksasa (Dendrocalamus giganteus Munro) adalah salah satu tanaman koleksi Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Jumat (19/5/2017). Kebun botani yang digagas oleh Prof C.G.C Reinwardt seorang botanis berkebangsaan Jerman sebagai tempat penelitian ini genap berusia 200 tahun.

Selain penanaman pohon, perlu dilakukan juga konservasi lingkungan atau konservasi alam untuk manfaat yang lebih besar. Secara fungsi, konservasi alam berarti adalah suatu manajemen terhadap alam untuk melindungi makhluk hidup pada suatu lingkungan, bisa berupa tanaman maupun binatang.

Menyeimbangkan fungsi lingkungan

Kegiatan-kegiatan seperti yang di atas baiknya mulai digalakkan demi terciptanya keseimbangan lingkungan. Hal tersebut pula yang saat ini menjadi concern utama dari PT Inalum (Persero) dengan memberikan kontribusi nyata dalam pelestarian alam.

“Program pelestarian lingkungan yang Inalum laksanakan kali ini dilakukan di sekitar Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba,” ungkap Sekretaris Perusahaan Inalum Ricky Gunawan melalui rilis yang Kompas.com terima, Selasa (19/3/2019).

Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan, lanjut Ricky, adalah penanaman pohon, pembangunan hutan raya, dukungan pengembangan Geopark Kaldera Toba, dan konservasi alam di kawasan wisata

Selain itu, Ricky juga mengatakan dipilihnya Danau Toba dalam program pelestarian lingkungan yang Inalum laksanakan.

“Danau Toba dipilih sebab di sana adalah sumber utama penyuplai kebutuhan air yang dibutuhkan untuk membangkitkan listrik. Nah, listrik ini dibutuhkan untuk keperluan peleburan aluminium,” jelasnya.

Selain Danau Toba, wilayah sepanjang pesisir Pantai Kuala Tanjung juga menjadi objek yang akan dibantu dan menjadi perhatian perusahaan.

“Gunanya adalah untuk mencegah abrasi pantai dan rencananya program ini terus dilakukan setiap tahun,” tambah Ricky.

Dalam program pelestarian lingkungan ini, Inalum pun turut berkolaborasi dengan Inhutani IV, kelompok-kelompok masyarakat pencinta alam, LSM pecinta alam, TNI, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya.

Diharapkan dengan diadakannya program pelestarian lingkungan ini, kawasan sekitar menjadi lebih aman dan stabil dalam menghadapi kemungkinan bencana alam yang datang. Selain itu, diharapkan pula kegiatan ini dapat dilaksanakan di daerah lainnya di seluruh Indonesia.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.