Ternyata, Kita Rindu Bung Hatta...

Kompas.com - 15/04/2019, 18:42 WIB
Pledoi berdurasi 3 jam disusun dan dibacakan Bung Hatta di Belanda pada waktu masih berusia 26 tahun! Eropa terpukau, tanah air tersentak, dan orang Indonesia mulai bergerak.INDY HARDONO Pledoi berdurasi 3 jam disusun dan dibacakan Bung Hatta di Belanda pada waktu masih berusia 26 tahun! Eropa terpukau, tanah air tersentak, dan orang Indonesia mulai bergerak.

KOMPAS.com - Banyak rujukan tentang kepemimpinan, pemimpin dan memimpin. Namun, menelusuri rujukan satu ini, seperti menyadarkan bahwa, kita mulai sering memanjakan pemimpin dengan puja-puji kering logika.

Ya, kita telah mengubah definisi dan menyederhanakan arti pemimpin. Kita tidak lagi menuntut pemimpin untuk memimpin.

Adalah Muhammad Hatta, sosok yang seringkali luput dari lampu sorot dan halaman pertama lembar-lembar sejarah negeri ini. Cerita tentang Hatta sering kali hanya sebatas cerita tentang seorang co-proklamator dan Bapak Koperasi.

Wajar saja. dari sisi fisik, Hatta sudah tenggelam di balik sosok Bung Karno yang karismatik. Di samping Bung Karno si orator ulung, Hatta terlihat sangat minor. Tak tersirat sedikit pun sosok pria Minang punya aroma militansi ataupun karakter seorang pendobrak.

Dia sosok yang tidak open page seperti Soekarno. Hatta terkesan sebagai antithesis dari dirinya sendiri.

Hatta militan dan pragmatis, namun tetap diplomatis dan filosofis. Sosok kecil yang tak banyak senyum, namun penggagas ide-ide besar dan revolusioner.

Mendapat pendidikan tinggi di luar negeri menjadikan Hatta seorang yang multi facet. Dia terpapar dengan berbagai ideologi seperti Marxisme, Sosialisme, Liberalisme, Islami, yang membuatnya sangat pragmatis dan nilai-nilai yang dianutnya sangat bearoma "barat".

Namun, Hatta sangat puritan dalam beribadah. Dia tak menyentuh alkohol. Ia berpikiran "barat", namun tidak kebarat-baratan.

Satukan, gelorakan, gerakkan

Memimpin adalah mempersatukan jiwa. Memimpin adalah menggerakkan daya, dan memimpin adalah menggelorakan cita.

Hatta adalah pejuang di garis depan yang berani menggerakkan dan menggelorakan  persatuan dan hasrat merdeka. Tak tanggung-tanggung, panggung yang dipakainya adalah mahkamah pengadilan di Den Haag dan lakon yang dibawakan adalah Indonesie Vrij – Indonesia Merdeka!

Sebuah pledoi, narasi pembelaan yang maha dasyat, mengecam Pemerintah Belanda atas ekploitasi rakyat sekaligus penangkapan terhadap dirinya dan pelajar Indonesia lain yang sedang studi di Belanda, yakni Nazir Pamoentjak dan Ali Sastroamidjojo.

"Bahwa penjajahan Belanda akan berakhir, bagiku itu pasti. Itu hanya soal waktu dan tidak soal ya atau tidak. Janganlah Nederland mensugesti dirinya sendiri, bahwa penjajahannya akan tetap sampai akhir zaman".

Sungguh suatu kecaman yang menggetarkan jiwa dan tikaman, langsung ke jantung pemerintah kolonial saat itu.

Pledoi berdurasi 3 jam itu disusun dan dibacakannya di Belanda pada waktu ia masih berusia 26 tahun! Eropa terpukau, tanah air tersentak, dan orang Indonesia mulai bergerak.


Page:
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorLatief

Close Ads X