Belajar Kasus Pontianak, Begini Cara Orangtua Mendekati Remaja

Kompas.com - 20/04/2019, 22:49 WIB
Cuplikan video Boomerang dari Instagram yang memperlihatkan ketiga terduga pelaku pengeroyokan siswi SMP di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, sedang berpose santai di depan polisi beredar luas di media sosial dan jejaring sosial.dok Twitter Cuplikan video Boomerang dari Instagram yang memperlihatkan ketiga terduga pelaku pengeroyokan siswi SMP di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, sedang berpose santai di depan polisi beredar luas di media sosial dan jejaring sosial.

KOMPAS.com - Kasus perundungan siswa Pontianak menjadi bukti pengaruh kawan sebaya terhadap anak, utamanya remaja, sangat besar.

Steven Parker, ahli bahasa, psikolog sekaligus ilmuan kognitif asal Kanada mengatakan, "Pemikiran bahwa anak adalah sumber pasif yang mudah dibentuk oleh orangtua adalah omong besar. Kelompok teman sebaya anak atau remaja lah penentu yang jauh lebih besar dibanding aspirasi orang tua. Hal ini akan terkait dengan perkembangan dan prestasi mereka nantinya.” 

Hal itu mudah dipahami bila melihat pada usia remaja, persentase waktu anak bergaul dengan kawan sebayanya jauh lebih besar daripada berkumpul dengan orang tua. Saat berkumpul dengan kawan sebaya itulah, terjadi proses pertukaran pengaruh, seperti penampilan, sikap, dan bahkan perilaku.

Banyak orangtua tidak terlalu mempermasalahkan anak remaja banyak bergaul bersama kawan sebayanya. Alasannya, itu hal normal dan hak remaja.

Baca juga: Mengapa Banyak Remaja Unggah Video Bullying di Medsos?

Masalah muncul kemudian, tidak jarang hubungan antara remaja dan orangtua menjadi kurang dekat bahkan sering melahirkan konflik. Idealnya, orangtua tetap memiliki ikatan dan komunikasi yang tidak kalah kuat dengan ikatan anak remaja dengan kawan sebayanya.

Hal itu penting agar pengaruh negatif tidak memengaruhi dan merusak karakter anak.

Menurut Sahabat Keluarga Kemendikbud, ada beberapa strategi untuk menguatkan komunikasi dengan anak: 

1. Menghargai keberadaan temannya

Dukunglah anak remaja untuk bergaul dengan kawan sebayanya. Namun, pastikan bahwa pergaulan remaja itu membawa dampak positif bagi anak. Akan lebih baik lagi apabila orang tua kenal dengan kawan-kawan anak dan sesekali ikut bergaul. Lakukan pembicaraan dengan anak tentang kawan teman-temannya sebagai bentuk penghargaan atas keberadaan mereka.

2. Nasehati halus namun tegas

Perlu disadari, berbicara kasar membuat anak remaja tergores harga dirinya. Apabila orangtua memiliki tujuan untuk menasehati lakukan dengan cara halus namun tetap tegas. Hal tersebut membuat anak remaja mau menerima nasehat dengan baik pula.

3. Diskusi serius-santai 

Sesibuk apapun orangtua, sempatkan waktu untuk berbagi, berbincang dan diskusi dengan anak tentang berbagai macam hal.

Topik-topik tersebut bisa tentang kegiatan ekstrakurikuler, perkembangan akademik, film yang sudah ditonton bersama kawan, piala dunia atau topik-topik serius seperti korupsi di Indonesia dan sebagainya.

Interaksi dan komunikasi intens membuat hubungan orang tua dan anak lebih kuat dan harmonis.

4. Memberi contoh nyata 

Dalam aktivitas pengasuhan, contoh ataupun teladan adalah kunci utama penanaman perilaku positif pada anak. Bila orangtua juga memperlakukan orang tua, kakek atau nenek, maka remaja tersebut mendapatkan contoh dan teladan nyata dalam berperilaku.



Close Ads X