Universitas Swasta Papua Didorong Buka Prodi Kuliner dan Wisata

Kompas.com - 08/05/2019, 21:34 WIB
Menristekdikti Mohamad Nasir saat Rapat Kerja Wilayah Pimpinan Yayasan dan Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XIV Papua - Papua Barat Tahun 2019 (8/5/2019). Dok. KemenristekdiktiMenristekdikti Mohamad Nasir saat Rapat Kerja Wilayah Pimpinan Yayasan dan Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XIV Papua - Papua Barat Tahun 2019 (8/5/2019).

KOMPAS.com - Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Papua Barat dan Papua didorong melahirkan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan potensi Tanah Papua.

Ada banyak potensi Papua dapat menyejahterakan Orang Asli Papua (OAP) bila perguruan tingginya menyediakan program studi (prodi) yang mendukung potensi tersebut.

Hal ini disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat Rapat Kerja Wilayah Pimpinan Yayasan dan Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XIV Papua - Papua Barat Tahun 2019 (8/5/2019).

Prodi terkait wisata

Melihat potensi keindahan wisata Raja Ampat, Menristekdikti menyampaikan untuk dapat berinovasi pariwisata di Raja Ampat, diperlukan prodi yang dapat melahirkan lulusan yang mampu melihat potensi pariwisata di Papua ini.

Baca juga: 5 Kampus Indonesia Masuk Daftar Peringkat Universitas Terbaik Asia!

 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Nasir menyampaikan PTS Papua dapat belajar dan bekerja sama dengan perguruan tinggi di Bali yang sudah lama mengembangkan program studi terkait wisata.

"Program studi pariwisata menjadi sangat penting. Kalau program studi itu penting, berikutnya ikutannya adalah (program studi) kesenian harus kita dorong. Yang ketiga program studi kuliner. Mungkin nanti kalau bisa kita lakukan kerja sama di Bali ini," ungkap Nasir.

Prodi terkait kuliner

Dalam pengembangan potensi kuliner di Papua, PTS dan pemuda di Papua belum banyak mengembangkan dan mengemas makanan pokok khas Papua, yaitu sagu.

"Juga kalau kita datang di Manokwari atau di Sorong Selatan, dimana itu ada sagu yang banyak. Pertanyaannya adalah apakah sagu kita hanya kita olah begitu saja," ungkap Nasir.

Menteri Nasir mengakui dirinya saat ini rutin mengkonsumsi sagu setiap hari setelah mengetahui kelebihan makanan pokok ini dibanding nasi, namun Nasir menyampaikan sagu perlu dikembangkan lagi oleh pemuda dan perguruan tinggi di Papua Barat dan Papua.

"Sagu itu glutennya sangat rendah, tapi sagu yang sudah dibuat kotak-kotak yang saya masukkan air panas ke mangkuk langsung memuai. Kalau saya ke Maluku selalu beli itu. Bagaimana mengolah sagu menjadi modern, ini yang sangat penting. Tanpa pendidikan, tidak mungkin kita akan ubah ini," papar Menristekdikti.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.