Dari Tugas Kampus, Aplikasi "Canika" Tim ITB Raih Dana Ratusan Juta

Kompas.com - 08/05/2019, 22:05 WIB
Tiga mahasiswa SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) Institut Teknologi Bandung (ITB) melahirkan startup dengan inovasi unggulan aplikasi Canika. Dok. Pribadi Tiga mahasiswa SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) Institut Teknologi Bandung (ITB) melahirkan startup dengan inovasi unggulan aplikasi Canika.

KOMPAS.com - Tiga mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajeman (SBM) Institut Teknologi Bandung melahirkan  startup baru melalui "Canika", sebuah aplikasi yang menghubungkan vendor pernikahan dan pasangan yang akan menikah.

Aninda Annisa, Rajna Habibah, dan Karina Alifa membuat aplikasi ini untuk memudahkan pengguna dalam merancang acara pernikahan kapanpun dan di manapun lewat sentuhan layar telepon pintar.

“Sederhananya, Canika merupakan marketplace untuk vendor (pernikahan), terus nanti customer tinggal cari deh di sini,” kata Aninda Annisa, CEO Canika dilansir dari laman ITB. Uniknya, nama "Canika" diambil bahasa Sunda yakni "can nikah" yang berarti belum menikah.

Berawal proyek kuliah

Awalnya "Canika" dibuat untuk memenuhi proyek mata kuliah SBM-ITB yaituLeadership and Management Practice (LMP). Dalam perkembangannya, Aninda dan kedua temannya melihat potensi Canika untuk bisa terus dikembangkan.
 
 
Proyek ini kemudian kembali dikembangkan dalam mata kuliah Integrated Business Experience (IBE). Dalam mata kuliah ini pula, "Canika" melebarkan sayap dengan melengkapi lini finansial, pemasaran, hingga operasional.
 
Perempuan kelahiran Tasikmalaya ini mengaku terinspirasi salah satu startup Indonesia yaitu Traveloka yang berhasil mendisrupsi agensi travel. “Nah saya coba cari hal yang bisa didisrupsi yang sustain selama kehidupan ada, yakni pernikahan,” jelas Aninda.

Raih pendanaan Kemenristekdikti

Prestasi yang diraih "Canika" tidak main-main. Berawal dari keberhasilan meraih Best Project pada mata kuliah LMP, mereka berhasil bergabung dalam "Young Entrepreneur Summit UI Studentpreneur 2019" pada awal Februari lalu.
 
"Canika" pun berhasil mendapat pendanaan dan pembimbingan Kemenristekdikti dalam program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi dari Perguruan Tinggi (CPPBT-PT) dengan nilai mencapai ratusan juta rupiah.
 
Untuk mendapatkan pendanaan ini, Aninda dan tim "Canika" harus bersaing dengan mahasiswa lain dari program pascasarjana. Aplikasi "Canika" berhasil melalui tahapan seleksi administrasi, presentasi, hingga wawancara.

Kejar target decacorn

Pada awal peluncuran, "Canika" menyediakan sembilan kategori pernikahan antara lain; lokasi/tempat, pakaian pengantin, mobil, makeup artist, katering, dekorasi, undangan, fotografer dan videografer, serta bunga.
 
Untuk melengkapi kemudahan pengguna dalam melakukan transaksi, kini "Canika" juga menyediakan berbagai metode pembayaran. Vendor pernikahan tak perlu khawatir karena biaya bergabung di "Canika" tidak dikenakan biaya. 
 
Vendor dan pengguna juga bisa melakukan interaksi melalui chatsecara langsung di aplikasi "Canika". Tak hanya itu, kedua belah pihak juga dapat melakukan negosiasi harga. 
 
Aninda berharap proyek yang ia rintis sejak Januari 2018 ini dapat terus berkembang hingga berstatus startup decacorn dan membantu mengembangkan bisnis UMKM

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X