Kerja sama ITB dan Pertamina Hasilkan Solar Nabati Minyak Sawit

Kompas.com - 16/05/2019, 22:25 WIB
Indonesia telah mampu menghasilkan solar campuran nabati atau green diesel dengan kualitas lebih baik. Saat ini Pertamina menghasilkan 12 ribu barel per hari dengan campuran 12,5 persen minyak sawit. Dok. KemenristekdiktiIndonesia telah mampu menghasilkan solar campuran nabati atau green diesel dengan kualitas lebih baik. Saat ini Pertamina menghasilkan 12 ribu barel per hari dengan campuran 12,5 persen minyak sawit.

KOMPAS.com - Indonesia telah mampu menghasilkan  solar campuran nabati atau green diesel dengan kualitas lebih baik. Saat ini Pertamina menghasilkan 12 ribu barel per hari dengan campuran 12,5 persen minyak sawit

"Ini harus kita tingkatkan terus supaya menjadi lebih baik di angka 20 persen atau 30 persen," ungkap Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir saat mengunjungi Pengolahan Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) Menjadi Green Diesel atau Diesel Nabati dengan Teknologi Co-Processing di Kilang Pertamina Refinery Unit II Dumai, Riau pada Kamis (16/5/2019).

PT Pertamina Refinery Unit (RU) II Dumai telah berhasil memproduksi green diesel atau solar nabati D-10 dengan kandungan 87,5 persen solar minyak bumi dan 12,5 persen minyak sawit.

Keberhasilan ini berkat Katalis Merah Putih yang dikembangkan Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis Institut Teknologi Bandung (TRKK ITB) dan diproduksi oleh PT Pupuk Kujang.

Hemat 31,25 triliun

Dalam kesempatan ini Menteri Nasir menyatakan yang mayoritas diimpor. Minyak bumi tersebut digantikan minyak sawit yang sudah diolah hingga mencapai RBDPO atau Minyak Sawit Tersuling, Cerah, dan Tak Berbau.

Baca juga: Inovasi Mobil Efisien Energi Binus Aso Melaju di Final Shell Eco Asia

"Misal kandungan sawitnya itu 10 persen, dalam satu tahun Indonesia bisa kurangi 10 persen dari total impor (minyak bumi) yang habiskan 17,6 miliar Dollar per tahun, bisa menghemat sepuluh persen atau 1,6 miliar Dollar per tahun atau 25 triliun Rupiah," ungkap Nasir.

"Kalau kita naikan sawitnya menjadi 12,5 persen, kita hemat di angka 31,25 triliun Rupiah. Impor kita mencapai 250 Triliun per tahun. Ini harus kita hemat. Ini yang harus kita tingkatkan kapasitas sawitnya," harap Nasir.

Lebih bersih emisi

Green diesel atau solar nabati yang diproduksi Pertamina dengan Katalis Merah Putih dari ITB ini tidak hanya menghemat anggaran impor bahan bakar dari fosil, tetapi juga memiliki cetane atau tingkat pembakaran diesel yang lebih bersih dengan emisi atau polusi udara yang lebih sedikit.

"Hasilnya juga dari kualitas. Kalau dengan fosil murni, cetane number-nya 51 persen. Kalau dari hasil Katalis Merah Putih ini, cetane-nya 58 persen, jauh lebih baik dan lebih bersih. Nanti pembakarannya lebih sempurna. Ini yang belum pernah ada di Indonesia, bahkan di dunia," ungkap Nasir.

General Manager Pertamina Refinery Unit (RU) II Dumai Nandang Kurnaedi mengungkapkan Pertamina sedang mempertimbangkan untuk memproduksi lebih banyak greed diesel D-10.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X