Pengusaha Muda Harus Siap Masuk Era Revolusi Industri 4.0

Kompas.com - 28/05/2019, 17:12 WIB
Bagas Adhadirgha, calon ketua umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) 2019-2022 pada acara Silaturahim Pengusaha Nasional di Ritz Carlton, Minggu (26/5/2019). Dok Hipmi Bagas Adhadirgha, calon ketua umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) 2019-2022 pada acara Silaturahim Pengusaha Nasional di Ritz Carlton, Minggu (26/5/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengusaha muda saat ini sudah harus siap masuk ke era revolusi industri 4.0. Di era inilah kemajuan digitalisasi ditandai dengan maraknya perusahaan yang berbasis teknologi mulai food and beverage, fesyen, transportasi, bahkan industri properti pun tak luput terkena dampak kemajuan digital.

Hal tersebut disampaikan oleh Bagas Adhadirgha, calon ketua umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) 2019-2022 pada acara Silaturahim Pengusaha Nasional di Ritz Carlton, Minggu (26/5/2019).

Untuk itu, lanjut Bagas, dia perlu membawa HIPMI masuk ke revolusi industri 4.0 agar dapat terus mencetak pengusaha muda yang berani berjuang kuat di era digital. Dengan konsep program HIPMI 4.0, menurut dia, organisasi pengusaha muda ini akan lebih familiar dengan digitalisasi dan teknologi.

"Karena depan implementasi digital makin penting untuk kemajuan mereka, anak-anak muda yang terjun sebagai pengusaha. Perlu kita lakukan kaderisasi dan pendampingan untuk membuka jalan dan membuka akses para pengusaha muda, terutama yang di daerah, agar bisa bersama-sama memiliki roadmap pembangunan yang baik. Itu esensi dari konsep 4.0 ini," kata CEO PT Asia Aero Technology ini.

Dengan konsep HIPMI 4.0 itulah, tutur Bagas, akan muncul sebuah revolusi bagi HIPMI. yaitu organisasi yang lebih efektif, produktif, dan transparan.

"Karena business Incubator sebagai inkubasi bisnis pengusaha muda Indonesia, business networking para anggotanya bisa bermitra antar sesama pengusaha bahkan pemerintah.  dari konsep ini juga akan tercipta organisasi yang lebih transparan," ujar Bagas.

Lebih dari itu, lanjut Bagas, generasi milenial yang cukup dominan pada era digital, akan berperan penting dalam menerapkan industri 4.0. Hal itu terkait erat dengan masa bonus demografi hingga tahun 2030.

"Ada 130 juta jiwa yang berusia produktif dapat mengambil kesempatan baru untuk mengembangkan bisnis di era digital. Inilah potensi yang tak boleh dilupakan. Kita akan banyak gunakan manfaat information technology yang terus berkembang," ucap Bagas.

Di sisi lain, menurut dia, Pemerintah Indonesia sendiri juga sudah menargetkan terciptanya 1.000 technopreneur pada 2020 mendatang dengan valuasi bisnis mencapai 100 miliar dollar AS dan total nilai e-commerce sebesar 130 miliar dollar AS.

Untuk itulah, lanjut Bagas, ke depan HIPMI harus bisa mengajak seluruh pengusaha muda di seluruh Indonesia untuk meraih kesempatan yang sama dalam berkontribusi dan berperan aktif di era industri digital. Organisasi pengusaha muda itu harus bisa melakukan empowering human talents yang bisa fokus memperkuat generasi muda dengan teknologi dan inovasi.

"Jadi, yang harus diingat adalah, dalam revolusi industri 4.0 itu perkonomian sudah tak lagi berbasis kepada modal, tapi kepada SDM. Bicara era ekonomi digital itu bicara big data sebagai bagian yang tak terpisahkan. Ini hal wajib yang dikuasai oleh pengusaha muda untuk bisa kuat hidup dalam ekonomi digital yang besar," tambah Bagas.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


EditorLatief
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X