4 Alasan Perlunya Mengajak Anak Silaturahim Saat Lebaran

Kompas.com - 06/06/2019, 09:33 WIB
Kumpul bersama keluarga. Nakita.grid.idKumpul bersama keluarga.

KOMPAS.com – Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan 1 Syawal 1440 Hijriah jatuh pada 5 Juni 2019. Penetapan dilakukan setelah Kemenag menggelar sidang isbat dipimpin Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Senin (3/6/2019) malam di Kementerian Agama, Jakarta.

Itu artinya, umat Muslim Indoensia akan merayakan Idul Fitri pada Rabu (5/6/2019). Salah satu kebiasaan dalam budaya masyarakat Indonesia yang selalu dijalankan yaitu silaturahim, berupa saling berkunjung dan berkumpul bersama keluarga besar.

Dalam rangkaian hari raya ini, silaturahim terasa begitu spesial karena bukan hanya untuk berkumpul, melainkan banyak manfaat lain diperoleh. Manfaat itu tidak cuma buat para orangtua, tetapi juga bagi anak.

Berikut 4 manfaat momen silaturahim untuk anak-anak:

1. Melatih komunikasi

Bagi anak belum ataupun sudah bersekolah, mereka bisa saling mengenal keluarga besar dari pihak ayah dan ibu. Inilah salah satu kesempatan supaya anak bisa berinteraksi sekaligus belajar keterampilan berkomunikasi.

Baca juga: Lebaran di Jakarta, Mau Apa dan Liburan ke Mana?

Sebab, dalam momen silaturahim seperti ini anak akan menemui berbagai macam orang dari beragam umur dan latar belakang. Maka dari itu, anak-anak akan terlatih untuk menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan banyak orang.

2. Saling memaafkan

Kesempatan bersilaturahim hari Lebaran juga memberi contoh nyata kepada anak-anak mengenai arti saling memaafkan.

Anak akan melihat langsung meminta dan memberi maaf di antara sesama anggota keluarga besar, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga kakek nenek.

Diharapkan nantinya, anak merasa terbiasa dan bisa saling memaafkan dengan teman dan keluarga untuk menjaga hubungan antar-manusia.

3. Saling berbagi

Ketika berencana berkumpul saat silaturahim, biasanya sesama anggota keluarga besar akan membawa berbagai macam makanan dan minuman untuk nanti disuguhkan dan dinikmati bersama.

Tradisi ini bisa menjadi pengajaran bagi anak untuk saling berbagi dan merasakan kebersamaan bersama keluarga dalam suka dan duka.

4. Mengetahui silsilah keluarga

Ayah dan ibu memiliki kesempatan mengajarkan kepada anak-anak mengenai cara memanggil anggota keluarga besar yang hadir pada acara silaturahim, misalnya panggilan kakek, nenek, paman, tante, dan saudara sepupu.

Berikan pula penjelasan tambahan mengenai betapa dekatnya hubungan ayah dan ibu dengan saudara yang dijumpai itu, misalnya dengan menceritakan kejadian masa lalu yang dilalui bersama, baik suka maupun duka.

Dengan begitu, anak mulai mengetahui silsilah keluarga dan hubungan persaudaraan di antara mereka. Anak pun akan lebih saling mengenal, menyayangi, dan hubungan silaturahim pun semakin erat.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber NAKITA
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X