Antre dari Pukul 05.00, Kekagetan Orangtua Siswa soal Sistem Zonasi PPDB

Kompas.com - 19/06/2019, 06:48 WIB
Sejumlah siswa dan orangtua murid antre saat akan mengikuti seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMAN 1 Depok, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (18/6/2019). Sistem PPDB Jawa Barat dengan mekanisme berdasarkan sistem jalur zonasi atau pemetaan wilayah sebanyak 90 persen, jalur prestasi lima persen dan jalur perpindahan orang tua wali lima persen tersebut, berlangsung dari tanggal 17-22 Juni 2019.ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA Sejumlah siswa dan orangtua murid antre saat akan mengikuti seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMAN 1 Depok, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (18/6/2019). Sistem PPDB Jawa Barat dengan mekanisme berdasarkan sistem jalur zonasi atau pemetaan wilayah sebanyak 90 persen, jalur prestasi lima persen dan jalur perpindahan orang tua wali lima persen tersebut, berlangsung dari tanggal 17-22 Juni 2019.

KOMPAS.com — Cerita para orangtua siswa yang mendaftarkan anaknya ke jenjang sekolah lebih tinggi pada Pendaftaran Penerimaan Siswa Baru ( PPDB) 2019 bermacam-macam, termasuk dalam PPDB Jawa Barat untuk jenjang SMA.

Begitu pula pengalaman yang dituturkan oleh Rismawati Sitepu saat mendaftarkan anak laki-lakinya yang bernama Carlos Anugrah ke SMAN 6 Depok setelah lulus dari SMPN 9 Depok.

Menurut Rismawati, dia merasakan pelaksanaan sistem zonasi pada PPDB kali ini membuat kerepotan tersendiri karena harus datang langsung ke sekolah tujuan sedari pagi dan mengalami antrean yang begitu panjang.

Antre sejak subuh

Ketika melakukan pendaftaran pada Senin (17/6/2019), dia datang ke SMAN 6 Depok pukul 05.00 WIB dan sudah mendapat nomor antrean 55. Dia mengaku tidak menyangka ternyata sepagi itu antrean sudah begitu banyak.

Bahkan, ada orangtua siswa lain yang sudah datang ke sekolah itu sejak pukul 03.00 WIB dan mendapat nomor antrean 17.

Baca juga: Dedi Mulyadi: PPDB Sistem Zonasi Harus Disertai Keadilan Negara

“Saya kaget juga datang jam 05.00 pagi ternyata antrean sudah nomor 55. Tanya teman yang lain, ada yang jam 03.00 pagi sudah datang terus dapat nomor 17,” ucap Rismawati saat dihubungi Kompas.com, Selasa (18/6/2019).

Setelah itu, orangtua lain terus berdatangan dan antrean semakin memanjang hingga siang hari. Meski demikian, dia mengaku antrean di sana cukup tertib dan proses pendaftaran berlangsung lancar sejak dimulai pada pukul 08.00 WIB.

Dia menuturkan, pihak sekolah membuat batasan antrean pada hari pertama pendaftaran kemarin hingga maksimal nomor 150, sedangkan nomor 151 dan seterusnya bisa melakukan pendaftaran pada keesokan harinya.

Perhatikan nilai UN

“Di situ enggak terlalu lama, jam 06.00 dikasih nomor, terus jam 08.00 disuruh kembali untuk cek berkas dan lain-lain. Nomor 1-150 dibatasi hari ini, nomor 151 dan seterusnya disuruh besok. Jadi enggak terlalu berjubel-jubel,” kata Rismawati.

Sepengetahuan dia, calon siswa yang terdaftar sampai pukul 11.00 kemarin sudah lebih dari 200 orang. Adapun kapasitas sekolah itu bisa sampai 315 anak untuk enam kelas.

Namun, berbeda dari orangtua lain, karena nilai ujian nasional (UN) anaknya relatif tinggi, dia berharap sistem zonasi bisa dipadukan dengan nilai UN agar kesempatan anaknya diterima di sekolah tersebut semakin besar.

Zonasi memang harus benar-benar diutamakan, tapi nilai UN juga bisa mendukung,” katanya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X