Literasi Baca Indonesia Rendah, Akses Baca Diduga Jadi Penyebab

Kompas.com - 23/06/2019, 07:01 WIB
Gelar wicara bertema Orang Tua Baca Nyaring, Anak Tumbuh Optimal yang diadakan oleh The Asia Foundation dan sejumlah pihak di Ruang Serbaguna Perpustakaan Kemendikbud RI, Jakarta, Kamis (20/6/2019). KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEAGelar wicara bertema Orang Tua Baca Nyaring, Anak Tumbuh Optimal yang diadakan oleh The Asia Foundation dan sejumlah pihak di Ruang Serbaguna Perpustakaan Kemendikbud RI, Jakarta, Kamis (20/6/2019).

KOMPAS.com – Penelitian dilakukan organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB (UNESCO) pada 2016 terhadap 61 negara di dunia menunjukkan kebiasaan membaca di Indonesia tergolong sangat rendah.

Hasil studi yang dipublikasikan dengan nama "The World’s Most Literate Nations", menunjukan Indonesia berada di peringkat ke-60, hanya satu tingkat di atas Botswana.

Penyebab rendah minat dan kebiasaan membaca itu antara lain kurangnya akses, terutama untuk di daerah terpencil. Hal itu merupakan salah satu yang terungkap dari Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Peneliti di Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Balitbang Kemendikbud Lukman Solihin mengatakan, ada empat dimensi menjadi pokok bahasan dalam indeks tersebut, yaitu dimensi kecakapan, akses, alternatif, dan budaya.

4 dimensi indeks literasi

Dimensi kecakapan bisa dilihat dari indikatornya berupa bebas buta aksara dan rata-rata lama sekolah, sedangkan dimensi akses, terdiri dari perpustakaan daerah, perpustakaan umum, perpustakaan komunitas, dan perpustakaan sekolah.

Baca juga: Pustaka Digital Terobosan Memperkuat Literasi Awal di Daerah 3T

Kemudian, untuk dimensi alternatif ini selain yang konvensional, yaitu penggunaan internet, membaca daring, dan media online. Adapun dimensi budaya dimaknai sebagai bagian dari kebiasaan membaca, misalnya meminjam buku di perpustakaan, memanfaatkan taman bacaan, serta membaca koran dan buku.

Dari keempatnya, hasil survei untuk dimensi akses adalah yang paling rendah, yaitu 23,09 persen. Adapun dimensi kecakapan 75,92 persen, dimensi alternatif 40,49 persen, dan dimensi budaya 28,50 persen.

“Artinya ada korelasi antara akses dengan kebiasaan, kalau enggak ada akses bagaimana mau membaca.  Para pegiat literasi melihat bahwa minat baca cukup tinggi, tapi itu potensi yang belum mewujud jadi perilaku, kebiasaan, dan budaya,” ujar Lukman dalam diskusi di kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Solusi literasi lewat digital

Menurut dia, keterbatasan akses ini bisa diatasi, misalnya dengan memanfaatkan teknologi internet dan gawai (gadget) serta perangkat elektronik lain, terutama untuk sekolah di daerah pelosok desa.

Biasanya di daerah tersebut masih susah ditemui toko buku dan perpustakaan yang memadai. Bahkan untuk pengiriman buku juga masih mengalami kesulitan.

Maka dari itu, guru bisa mengakalinya dengan mengunduh buku digital lalu dibacakan kepada para siswa di kelas.

“Untuk mengatasi keterbatasan akses, misalnya guru di daerah terpencil bisa mengunduh buku digital, lalu ditampilkan ke proyektor dan dibaca sama-sama di kelas,” imbuh Lukman.

Dengan begitu, diharapkan masalah keterbatasan akses bisa dikurangi dan penyebaran buku lebih merata sehingga mampu menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca bagi anak-anak di berbagai daerah.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X