4 Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Penepis Embun Upas untuk Minimalisasi Kerugian Petani

Kompas.com - 02/07/2019, 12:19 WIB
Mahasiswa UGM yang membuat alat irigasi otomatis untuk mengurangi embun upas. Kholis MMahasiswa UGM yang membuat alat irigasi otomatis untuk mengurangi embun upas.

KOMPAS.com - Empat mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menciptakan sebuah alat irigasi penepis embun upas yang biasanya muncul di dataran tinggi.

Mahasiswa angkatan 2017 itu terdiri dari Kholishotul Ma'rifah, Setyawati, Denis Tio Yudhistira (Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem) dan Muhammad Fiqi Rohman (Elektronika dan instrumentasi).

Proyek mahasiswa di bawah bimbingan dosen Fakultas Teknologi Pertanian Dr. Ngadisih, S.TP, M.Sc ini dibiayai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek dikti) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Teknologi (PKM-T).

Kholis dan ketiga temannya melakukan penelitian di daerah Tamansari, Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Ide

Kholis menceritakan, setelah mengetahui adanya fenomena embun upas, timnya sepakat membuat alat yang dapat membantu petani di dataran tinggi mengurangi risiko kerugian karena embun upas yang mengenai tanaman dapat menyebabkan gagal panen.

"Kemudian, kami ke sana (daerah Dieng) dan berdiskusi dengan petani sayuran sana. Memang benar, mereka rugi besar ketika musim-musim seperti ini kalau mereka tidak melakukan penyiraman (secara) terus pada tanamannya," kata Kholis saat diwawancara Kompas.com, Selasa (2/7/2019).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Kholis, petani biasanya menggunakan cara penyiraman manual untuk menghilangkan embun upas.

"Waktu penelitian ada embun upas (di tanaman). Petani setiap pagi siap-siap melakukan penyiraman," ujar dia.

Namun, penyiraman manual ini dapat menyebabkan kelebihan air pada tanah (drainage stress), serta meningkatkan potensi serangan hama dan penyakit tanaman lain karena jumlah air yang disiramkan melebihi kebutuhan air tanaman.

Cara kerja alat

Alat irigasi yang diciptakan mahasiswa UGM ini beroperasi otomatis. Alat akan menyirami tanaman ketika terdapat embun upas, bahkan sebelum embun upas terbentuk.

"Alat ini kami setting secara otomatis menggunakan sensor untuk mendeteksi suhu dan kelembaban di lahan petani," kata Kholis.

Kholis mengatakan, pengaturan suhu yang digunakan berdasarkan pada suhu saat terjadi embun upas di lahan petani.

"Ketika suhu di daerah Dieng sudah berada di bawah 10 derajat celcius, maka otomatis alat akan menyemprotkan air ke tanaman (melalui selang)," ujar dia.

Selang

Pemasangan selang pada alat irigasi otomatis yang dapat menghalau embun upas oleh mahasiswa UGM.Kholis M Pemasangan selang pada alat irigasi otomatis yang dapat menghalau embun upas oleh mahasiswa UGM.
Selang dipasang dengan bentuk letter U, dengan jarak nozzle (lubang pengeluaran air) lebih besar, yakni berjarak 1 meter yang menyesuaikan daya pompa dan penyebarannya.

Kholis menjelaskan, jika satu tanaman diberi satu nozzle, hal ini tak akan efisien karena banyak air terbuang sia-sia.

"Petani sangat diuntungkan karena mereka tidak perlu susah-susah menyirami tanamannya. Petani tinggal memantau saja," lanjut Kholis.

Jumlah air yang dikeluarkan diatur dengan waktu yang telah terprogram, sehingga tanaman tidak akan terlalu banyak menerima air.

Pemasangan alat irigasi otomatis yang dapat menghalau embun upas oleh mahasiswa UGM.Kholis M. Pemasangan alat irigasi otomatis yang dapat menghalau embun upas oleh mahasiswa UGM.
Mereka menerapkan waktu per 5 menit berdasarkan sensor suhu yang ada, dengan artian 5 menit alat menyala, dan 5 menit alat mati, jika suhu berada di bawah 10 derajat celcius.

Sumber air yang digunakan berasal dari tanah yang ditampung dalam tandaoh yang ditanam di bawah tanah.

Air ini tidak diberi campuran zat apa pun.

Telah diterapkan

Alat irigasi otomatis ini sudah diimplementasikan ke petani di wilayah Banjarnegara.

Akan tetapi, hasil penggunaan alat dilihat dari jumlah produksi masih menunggu hingga masa panen tiba.

"Hasilnya masih menunggu sampai panen. Kurang lebih 2,5 bulan lagi. Soalnya habis lebaran baru tanam. Secara jangka pendek sih tanaman tidak mengalami kelayuan," ujar Kholis.

Ia menyebutkan, saat ini timnya masih terus melakukan proses penyempurnaan alat. "Kami masih berfokus untuk Pimnas pada Agustus mendatang," ujar dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X