Kompas.com - 06/07/2019, 12:07 WIB
Acara launching dan bedah buku Bringing Civilization Together: Nusantara di Simpang Jalan karya SD Darmono di Menara Batavia, Jakarta (4/7/2019). DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARAcara launching dan bedah buku Bringing Civilization Together: Nusantara di Simpang Jalan karya SD Darmono di Menara Batavia, Jakarta (4/7/2019).

Hal senada disampaikan Abdul Wahid Maktub (Staf Khusus Menristekdikti) yang menilai apa yang dituangkan SD Darmono dalam bukunya merupakan "kegelisahan" anak bangsa dan kemudian menggali kegelisahannya tentang peradaban manusia untuk kemudian menuliskan resep suksesnya.

"Cita-citanya besar untuk Indonesia bisa menjadi negara adidaya suatu saat nanti. Maka itu, Darmono mencari resepnya agar kita bisa bersaing, bahkan menyalip atau mengungguli negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan China." ujar Abdul Wahid Maktub.

Djoko Santoso mantan Rektor UI menyampaikan pemikiran SD Darmono yang secara spiritual itu kokoh, ternyata bisa menghasilkan produk-produk yang besar dan bisa dinikmati orang lain. "Itulah makna dari budi luhur," ujar Djoko Santoso.

Nusantara di simpang jalan

Jelang akhir acara, penulis "Bringing Civilizations Together" SD Darmono menyampaikan setiap bangsa akan selalu dihadapkan pada momen 'persimpangan jalan' yang akan menentukan arah masa depan, termasuk Indonesia. 

"Indonesia adalah produk keajaiban sejarah. Keajaiban itu bisa dilihat dari berbagai peristiwa bersejarah masa lalu seperti perang kemerdekaan '45, badai G30S '65, dan krisis ekonomi '98," tulis SD Darmono dalam bukunya.

Ia menyampaikan jika dicerna menurut pikiran biasa, mungkin 3 peristiwa di atas harusnya telah menenggelamkan "kapal besar Indonesia". "Tetapi karena ada keajaiban yang menyertainya, 'kapal besar' Indonesia tetap berlayar di lautan luas tanpa tersesat," lanjutnya.

Pascapemilu SD Darmono menyampaikan harapannya kepada Presiden Joko Widodo untuk berani mengambil keputusan dan berani menghadapi demi masa depan bangsa ini. "Berkaca pada kenyataan saat ini, optimisme tinggi patut digelar menghadapi masa depan," lanjutnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Manusia Indonesia harus kembali pada khitahnya: melawan bagian dirinya yang menjajah diri sendiri. Jangan sampai 'rahwana' dalam diri kita ini dibiarkan begitu saja bergentayangan dan tak bisa dikendalikan," tutupnya. 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X