Jadi Gambaran Sarjana Ideal, Budaya Panji Dinilai Dukung Prestasi

Kompas.com - 13/07/2019, 19:46 WIB
Pengamat budaya Wardiman Djojonegoro pada diskusi dalam rangka Festival Panji Nusantara 2019 di Universitas Ma Chung, Malang, Jumat (12/7/2019). DOK. KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEAPengamat budaya Wardiman Djojonegoro pada diskusi dalam rangka Festival Panji Nusantara 2019 di Universitas Ma Chung, Malang, Jumat (12/7/2019).

KOMPAS.com - Cerita budaya tentang Panji di Jawa Timur menjadi inspirasi untuk penyelenggaraan "Festival Panji Nusantara 2019" yang diadakan bersamaan di Kota Malang, Kabupaten Kediri, Tulungagung, dan Blitar.

Sebagai bagian dari festival itu, digelar diskusi di Universitas Ma Chung, Malang bertema "Transformasi Budaya Panji", Malang, Jumat (12/7/2019).

Rektor Universitas Ma Chung Murphin Joshua Sembiring mengatakan pihaknya mendukung festival ini karena sesuai visi kampus membangun prestasi akademik dan karakter mahasiswa yang baik.

"Karakter brilian cerita Panji memiliki jiwa kepemimpinan, kuat, dan integritas tinggi. Sarjana seperti itulah yang ingin dicetak di sini," ucap Murphin dalam diskusi tersebut. 

Karakter luhur

Terkait revolusi industri 4.0, tambahnya, karakter seperti itu sangat diperlukan karena berangkat dari keprihatinan belakangan ini berbagai nilai luhur semakin tergerus.

Baca juga: Serentak, Festival Panji Nusantara 2019 Digelar di Empat Kota

Nilai-nilai itu antara lain moralitas, etika, budi pekerti, kearifan lokal, religius, dan identitas bangsa. "Itu potensial terjadi. Harapan kami diskusi ini bisa menanamkan karakter nilai-nilai luhur bangsa, bukan hanya dari kampus," imbuh Murphin.

Sementara itu, pengamat budaya Wardiman Djojonegoro mengungkapkan kekagumannya pada cerita Panji karena beberapa hal, misalnya latar belakang waktu yang terjadi pada tahun 1360-an dan sudah ada relief yang menggambarkannya.

Ia pun mengagumi penyebaran cerita Panji sampai ke berbagai pelosok Nusantara, bahkan hingga ke negara-negara di Asia Tenggara. Penyebaran itu membuat banyak bermunculan naskah cerita Panji dalam bermacam bahasa sesuai kearifan lokal masing-masing.

Banyak versi

"Budaya Panji juga sampai ke Bali, Lombok, bahkan ada naskah berbahasa Aceh. Ada juga di Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Malaysia dengn bahasa masing-masing," kata Wardiman.

Menurutnya, ada banyak penulis menceritakan tentang Panji. Sampai saat ini terdapat sekitar 254 naskah dalam delapan bahasa, misalnya Bali dan Jawa kuno, serta Melayu.

Ia berpendapat itulah keunikan cerita Panji karena tidak hanya satu cerita, tetapi bisa puluhan atau bahkan ratusan. Selain itu, satu judul cerita bisa menghasilkan banyak versi. Wardiman pun mengharapkan cerita Panji bisa sebagai budaya pemersatu bangsa Indonesia melalui penyesuaian dengan keadaan zaman sekarang.

"Cerita Panji tidak hanya tentang percintaan. Pengarangnya banyak, isinya juga banyak, misalnya soal toleransi dan lingkungan hidup. Jadi beradaptasi dengan keadaan," pungkasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X