Lomba Riset Sawit 2019, Mahasiswa Unpad Ubah Tandan Sawit Jadi Kain

Kompas.com - 18/07/2019, 13:52 WIB
Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran menduduki peringkat ketiga Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Dok. Universitas PadjadjaranMahasiswa Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran menduduki peringkat ketiga Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

KOMPAS.com – Tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran ( Unpad) berhasil mengubah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menjadi kain bermanfaat ekonomis.

Ketiga mahasiswa tersebut yaitu Muhammad Mas’ud, Sita Halimatus Sa’diyah, dan Bonie Pamungkas, di bawah bimbingan Ahmad Thoriq.

Seperti dipublikasikan laman resmi Unpad, penelitian tersebut menghasilkan dua jenis kain, yaitu kain non-woven dan kain tenun. 

Kain non-woven bisa dimanfaatkan sebagai insulator dan peredam suara, sedangkan kain tenun TKKS bisa diolah menjadi tas, sepatu, topi, taplak meja, gorden, dan sejumlah produk kerajinan lainnya.

Limbah serat sawit

Tandan kosong kelapa sawit selama ini hanya dibuang ke lahan sawit, ada juga yang mengolahnya kompos. Apabila dibuang ke lahan, proses penguaraiannya membutuhkan waktu yang cukup lama.

Baca juga: Di UPH, Menristekdikti Tekankan Pentingnya Riset dan Daya Saing Bangsa

Sampah TKKS itu sering kali menjadi sarang tikus dan bisa berakibat pada penurunan produktivitas tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.

Namun, jika diolah menjadi kompos, diperlukan investasi berjumlah besar, lahan luas, dan jauh dari permukiman. Padahal, potensi limbah serat sawit bisa mencapai 5,85 juta ton setiap tahun.

Dalam Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa yang diadakan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, para mahasiswa pesertanya berusaha menyelesaikan berbagai masalah terkait limbah sawit itu.

Sisihkan 350 proposal

Adapun penelitian yang dilakukan tiga mahasiswa FTIP Unpad itu membuat mereka berhasil menduduki peringkat ketiga.

Sebelumnya, lomba itu dimulai dengan seleksi proposal. Terdapat 350 proposal yang diterima juri yang terdiri dari tiga unsur, yakni akademisi, peneliti, dan praktisi.

Selanjutnya dipilih 30 proposal yang mendapat pendanaan. Dari hasil evaluasi kemajuan penelitian, tim FTIP Unpad lolos menjadi 10 besar terbaik, lalu memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitiannya pada babak final yang diselenggarakan pada 12 sampai 13 Juli 2019 di IPB International Convention Centre, Bogor.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X