Kompas.com - 24/07/2019, 21:30 WIB
Mengenalkan cerita rakyat dengan menggabungkan aktivitas mewarnai yang dilakukan oleh Faqih Febrianto, Shafna Utami, dan Siti Rizqiah pada Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) di Bumi Perkemahan Candi Prambanan, Sleman, DIY, Selasa (23/7/2019). Dok. KemendikbudMengenalkan cerita rakyat dengan menggabungkan aktivitas mewarnai yang dilakukan oleh Faqih Febrianto, Shafna Utami, dan Siti Rizqiah pada Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) di Bumi Perkemahan Candi Prambanan, Sleman, DIY, Selasa (23/7/2019).

KOMPAS.com – Anak-anak usia dini berhak mendapatkan kesempatan untuk mengetahui cerita rakyat yang berasal dari Indonesia. Selain untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang kebudayaan, imajinasi pun semakin berkembang sehingga bisa memacu kreativitas.

Untuk itu, memperkenalkan cerita rakyat kepada anak-anak yang masih duduk di bangku pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) sebaiknya dilakukan dengan kegiatan yang menyenangkan.

Sebagai contoh, sebagaimana dipublikasikan di situs resmi Kemendikbud, hal itu diterapkan oleh tiga orang pemuda-pemudi, yaitu Faqih Febrianto, Shafna Utami, dan Siti Rizqiah. Mereka adalah peserta Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) di Bumi Perkemahan Candi Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada Selasa (23/7/2019), ketiga remaja itu mengembangkan cara mengenalkan cerita rakyat dengan menggabungkan aktivitas mendongeng sambil mewarnai. Metode yang dilakukan yaitu mempresentasikan purwarupa (prototipe) buku mewarnai yang berisi berbagai adegan cerita rakyat dari Kabupaten Pandeglang, Banten.

Baca juga: Saat Musik Jadi Pilihan, SMKN 2 Bantul Yogyakarta Tunjukkan SMK Bisa!

"Jadi ini terutama untuk anak-anak PAUD dan SD, mereka diperkenalkan dengan cerita-cerita rakyat dengan aktivitas yang menyenangkan seperti mewarnai," ujar Faqih kepada dewan juri tentang manfaat metode mendongeng dan mewarnai.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Perkenalan cerita rakyat kepada anak-anak perlu dilakukan supaya mereka mengenal cerita rakyat sedari awal, kemudian bisa mengambil hikmah dari cerita yang didengarnya.

sebelumnya, Faqih dan teman-teman juga telah mengujicobakan metode tersebut kepada anak-anak di sekitar rumah mereka di Pandeglang.

"Sudah diuji coba dan hasilnya menggembirakan. Kami coba ke adik-adik kami, mereka menyukainya," ucap Faqih yang kuliah di Jurusan Bimbingan Konseling Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA.

Dia bersama teman-teman pun mengaku bangga menjadi bagian dari kegiatan KBKM 2019 karena dalam forum ini mereka memiliki kesempatan untuk mempresentasikan ide dan karya mereka demi kemajuan kebudayaan Indonesia.

Untuk diketahui, KBKM 2019 diikuti oleh 561 peserta yang terdiri dalam 132 kelompok dari 28 provinsi. Ada empat kelompok besar yang merupakan perwakilan dari ide besar yang diharapkan bisa diwujudkan untuk mengatasi tantangan pemajuan kebudayaan, yaitu Purwarupa Aplikasi (46 kelompok), Purwarupa Fisik (31 kelompok), Aktivasi Kajian (25 kelompok), dan Aktivasi Kegiatan (31 kelompok).



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.