6 Alasan Kuliah Program MBA Makin Jadi Favorit

Kompas.com - 05/08/2019, 16:25 WIB
Banyak juga yang mengambil MBA karena ingin menjadi pengusaha dan mempelajari rahasia menjalankan bisnis dengan sukses. Hal itu sangat dimungkinkan, karena biasanya pengajarnya adalah para praktisi yang telah sukses di bidangnya masing-masing. Ilana MillnerBanyak juga yang mengambil MBA karena ingin menjadi pengusaha dan mempelajari rahasia menjalankan bisnis dengan sukses. Hal itu sangat dimungkinkan, karena biasanya pengajarnya adalah para praktisi yang telah sukses di bidangnya masing-masing.
Editor Latief

KOMPAS.com - Dewi Arumsari (29) mengaku bingung. Tahun ini, memasuki tahun ketiga bekerja sebagai manajer keuangan, karirnya merasa mentok. Di satu sisi Dewi ingin terus bekerja, tapi di sisi yang lain ada dorongan untuk resign dan membuka bisnis sendiri (startup).

Dewi bilang, belakangan dorongan untuk menjadi enterpreneuer itu malah lebih kencang. Namun, selain jejaring yang luas, untuk menjadi pebisnis dia mengaku butuh wawasan baru, terutama dari sisi manajerial dan kemampuan menganalisis masalah dan solusi.

"Saya mau terjun ke bisnis digital, bisnis database, jadi memang butuh sekolah lagi dan harus ke luar negeri. Niatnya sih ke Amerika. Bukan cuma butuh wawasan, tapi juga butuh challenge, perlu kondisi yang bisa membentuk saya lebih mandiri dan kuat bersaing sih," ucap Dewi, Senin (5/8/2019).

Lulusan fakultas ekonomi di perguruan tinggi negeri di Medan, Sumatera Utara, ini mengatakan ingin mengambil program bisnis atau Master of Business Administration ( MBA) untuk mengasah pengetahuan baru dan keahlian untuk bisa bersaing secara profesional di kancah internasional.

Dia mengakui, di era milenial saat ini persaingan bisnis digital makin ketat. Ketatnya persaingan itu bukan cuma di Indonesia, bahkan di negara lainnya. Untuk itu, Dewi berkeras bisnisnya tak cuma mengakar di Tanah Air, tapi bisa ekspansi ke Asia Tenggara dan wilayah lainnya.

"Makanya, tantangan dan pengalaman harus saya dapatkan di lingkungan internasional. Kebanyakan sekolah bisnis di Amrik itu kan melatih prinsip-prinsip manajemen bisnis umum. Prinsip-prinsip ini termasuk gabungan dari akunting, ekonomi, keuangan pemasaran, etik dan statistik. Itu yang saya butuhkan," tambah Dewi.

6 alasan

Melihat rencana Dewi, seketika muncul pertanyaan, apakah Anda juga merasa sudah bisa bersaing dengan pekerja atau pebisnis dari negara lain? Apa iya memilih program pascasarjana itu cocok untuk meningkatkan kualitas pendidikan Anda, terutama demi memperkuat daya saing?

Perlu diingat, ini memang sudah masuk ke era globalisasi mobilitas pergerakan pekerja antarnegara yang sudah tak terhindarkan, termasuk di Indonesia. Apakah ini yang menyebabkan pendidikan program pascasarjana semakin banyak diincar oleh masyarakat Indonesia?

Banyak program pascasarjana yang tersedia di berbagai universitas. Salah satu program favoritnya adalah program bisnis atau Master of Business Administration (MBA), di mana seseorang akan mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai metode bisnis hingga keterampilan dan etika untuk menyesuaikan diri dengan komunitas bisnis.

Mengapa program ini menjadi favorit? Setidaknya, ada 6 alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, pembelajaran yang dapat menambah kemampuan manajerial. Alasan kedua untuk mendorong keluar dari zona nyaman untuk berhadapan dengan isu terkini di dunia bisnis.

Adapun alasan ketiga adalah mengaplikasikan teknik manajemen yang baru, keempat menyusun strategi konkret akan tantangan bisnis baru yang dihadapi, kelima menambah jaringan bisnis, dan keenam sebagai batu loncatan untuk mendapatkan penghasilan lebih tinggi.

Selain itu, banyak juga yang mengambil MBA karena ingin menjadi pengusaha dan mempelajari rahasia menjalankan bisnis dengan sukses. Hal itu sangat dimungkinkan, karena biasanya pengajarnya adalah para praktisi yang telah sukses di bidangnya masing-masing.

"Kenapa sih butuh sekolah lanjutan, karena sekolah bukan cuma untuk cari ijazah. Sekolah itu kan tempatnya membuka jaringan dan peluang. Yang ingin ambil MBA itu kan rata-rata sudah punya pengalaman kerja, jadi diskusi dengan teman sekolah dari berbagai negara akan sangat menambah wawasan," papar Koordinator Promosi Pendidikan Nuffic Neso Indonesia, Inty Dienasari.

Inty menambahkan, saat menimba ilmu MBA itulah mahasiswa akan banyak belajar mengenai analisa masalah dan diskusi kelompok. Menurut dia, hal itu penting, sebab analisa di tiap kepala orang dengan latar belakang pengetahuan dan pengalaman berbeda akan sangat berbeda hasilnya.

Anda tertarik untuk melanjutkan studi MBA? Ada baik Anda tidak melewatkan Jakarta MBA & Business Master’s Conference 2019 yang mendatangkan 19 universitas bisnis ternama di dunia, seperti Rotterdam School of Management, Columbia University, UCLA, NUS, dan banyak lagi.

Acara ini sendiri diadakan oleh Nuffic neso bekerja sama dengan institusi The MBA Tour. Kegiatan ini berlokasi di Mandarin Oriental Jakarta pada 24 Agustus 2019 mendatang, mulai jam 11.30 sampai 16:00 WIB.

Bagi Anda yang butuh informasi lebih jauh, kehadiran di acara ini tidak dipungut biaya. Informasi lebih lanjut mengenai acara ini bisa didapatkan di tautan bit.ly/jakMBA.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X