Bantu Penanganan Bibir Sumbing, Mahasiswa UI Ciptakan Teknologi Baru

Kompas.com - 08/08/2019, 16:48 WIB
Lima mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dari fakultas berbeda yang berhasil menciptakan teknologi Cleft Sintesa. Dok. Universitas IndonesiaLima mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dari fakultas berbeda yang berhasil menciptakan teknologi Cleft Sintesa.


KOMPAS.com – Satu lagi inovasi dihasilkan mahasiswa Indonesia untuk dunia kesehatan. Kali ini lima mahasiswa Universitas Indonesia ( UI) dari fakultas yang berbeda berhasil menciptakan teknologi Cleft Sintesa.

Teknologi ini merupakan metode sintesis wajah tiga dimensi (3D) dalam pembuatan simulator fisik bibir sumbing untuk meningkatkan kualitas penanganan kasus bibir sumbing di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Kelima orang mahasiswa itu adalah Refanka Nabil (Teknik Elektro 2016), Rendi Chevi (Teknik Elektro 2016), Hanif Rachmadani (Teknik Elektro 2016), Yolanda Natalia (Teknik Industri 2016), dan Nurchalis Rasyid (Pendidikan Dokter 2017).

Mereka bersama-sama menghasilkan produk tersebut di bawah bimbingan dosen Departemen Teknik Mesin FTUI, Radon Dhelika dan menjalin kerja sama secara resmi dengan Cleft and Craniofacial Center RSCM.

Gantikan replika anatomis 

Gagasan untuk menghasilkan Cleft Sintesa berawal dari diskusi dengan para dokter spesialis Cleft and Craniofacial Center di RSCM. Kemudian, diskusi itu berkembang menjadi ide kolaborasi interdisiplin untuk memberikan jawaban atas berbagai masalah kedokteran dalam menangani pasien bibir sumbing.

Baca juga: Ini Dia, Para Pemenang MTQ Mahasiswa Nasional 2019

“Penciptaan simulator ini dilatarbelakangi oleh lambatnya kemajuan inovasi teknologi medis di Indonesia, khususnya pada kasus bibir sumbing yang nyatanya menjadi kasus penyakit bawaan lahir terbanyak nomor tiga di Indonesia.” ucap Refanka Nabil, seperti dilansir laman resmi UI, Kamis (8/8/2019).

Penggunaan Cleft Sintesa menggantikan metode lama pembuatan replika anatomis fisik bibir sumbing dengan mengintegrasikan sensor multifungsi accelero-gyro infrared dan metode rekonstruksi tiga dimensi edge-modelling sehingga bisa menghasilkan pencitraan bibir sumbing lebih akurat.

Dengan adanya teknologi ini diharapkan bisa mempermudah perencanaan operasi bibir sumbing dan membuat para tenaga medis dapat mengasah kemampuan bedah, misalnya memotong dan menjahit bagian bibir sumbing tanpa menimbulkan risiko.

Pelopor simulator medis

“Sensor multifungsi accelero-gyro infrared akan merekam kontur wajah bayi sumbing untuk mendapatkan tujuh titik anatomis bibir sumbing dan rongga dalam mulut pasien tanpa adanya kontak fisik,” papar Refanka.

Kemudian, lanjutnya, sensor itu diolah dan diperhalus dengan edge-modelling sehingga membentuk model 3D bibir sumbing siap cetak yang sesuai dengan standar dari tenaga medis. Lalu model itu dicetak dengan 3D printing yang bisa digunakan dengan mudah oleh tenaga medis.

Sebelumnya, baru di negara Kanada yang telah mengembangkan teknologi simulator medis semacam ini. Melalui inovasi tersebut diharapkan menjadi pelopor dalam perkembangan teknologi simulator medis di Indonesia.

Adapun kelima mahasiswa tersebut saat ini sedang dalam tahap menguji manfaat Cleft Sintesa terhadap mitra untuk mengikuti ajang Program Kreativitas Mahasiswa 2019 yang diadakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X