Idul Adha, Daging Kurban Kurang Enak Ini Penjelasan Pakar UGM

Kompas.com - 11/08/2019, 11:50 WIB
Kambing terlihat di kandang di trotoar Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (31/8/2017).Meskipun telah dilarang oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk berjualan hewan kurban di atas trotoar, sejumlah pedagang masih terlihat menjajakannya di pinggir jalan dengan harga bervariasi mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 8 juta.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Kambing terlihat di kandang di trotoar Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (31/8/2017).Meskipun telah dilarang oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk berjualan hewan kurban di atas trotoar, sejumlah pedagang masih terlihat menjajakannya di pinggir jalan dengan harga bervariasi mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 8 juta.

KOMPAS.com - Peneliti ilmu dan teknologi daging higienis Fakultas Peternakan UGM Rusman menyampaikan proses dan prosedur pemotongan hewan yang benar bisa menghasilkan daging ASUH atau Aman, Sehat, Utuh, dan Higienis.

Sebaliknya, Rusman melalui laman resmi UGM menyampaikan hewan yang stres saat sebelum penyembelihan akan menghasilkan daging yang kurang enak, bahkan kondisi tersebut bisa dilihat dari warna daging setelah dipotong-potong.

“Warna daging agak gelap dan pucat,” jelas Rusman saat mengisi pelatihan penyembelihan hewan dan penanganan daging kurban yang higienis, di Fakultas Peternakan UGM, Selasa (30/7/2019). Acara diikuti pengurus takmir dan panitia kurban masjid musala se-DIY dan Jawa Tengah.

Kondisi stress

Untuk menghasilkan agar kualitas daging hewan kurban tetap enak dan tidak cepat membusuk disarankan agar panitia kurban jangan sampai membuat hewan kurban dalam kondisi stres sebelum dipotong.

Baca juga: Pesan Jokowi: Tingkatkan Kesalehan Sosial Lewat Perayaan Idul Adha

 

“Usahakan suasana jangan dibuat ramai, jika stres hewan bisa kalap dan ngamuk,” hal senada disampaikan peneliti produk halal dari Fakultas Peternakan UGM, Hanung Danar Dono. 

Selain untuk mendapatkan daging yang enak dan empuk, hewan sebaiknya dipisahkan dari rekannya sebelum dipotong dan ia tidak mencium bau amis darah.

“Hewan tidak boleh melihat rekannya dikuliti, tidak boleh melihat genanganan darah. Bau amis darah buat hewan jadi tambah stres,” katanya. Ia menyampaikan ciri jika hewan mulai stres yaitu mulai menggerakkan ekornya yang menandakan hewan tersebut mulai gelisah.

Proses penyembelihan

Selain itu, ia juga menyarankan sebelum dipotong hewan tersebut dipuasakan selama kurang lebih 12 jam sehingga proses penyembelihan menjadi lebih mudah. “Pemuasaan sangat efektif agar hewan kurban tidak agresif,” katanya.

Saat penyembelihan berlangsung, sebaiknya si penyembelih hewan mengusahkan agar bisa memotong tiga saluran pada leher bagian depan atau tepatnya di bawah jakun, yakni saluran nafas, saluran makanan dan pembuluh darah arteri karotis dan vena jugularis.

Ia menyarankan proses penyembelihan tersebut tidak memutus saluran sumsum tulang belakang. “Tidak boleh putus karena kepentingan pemompaan darah agar cepat keluar, apabila terputus, darah akan banyak menumpuk sehingga daging lebih mudah membusuk,” katanya.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X