BBJ dan Liquid Colour Community Gelar Pameran “Power of Jawa”

Kompas.com - 15/08/2019, 12:58 WIB
E-Poster Power of JavaDOK. BBJ E-Poster Power of Java

KOMPAS.com - Bentara Budaya Jakarta bersama Liquid Colour Community menggelar pameran karya seni rupa bertajuk “Power of Jawa”.

Pembukaan pameran dilaksanakan Kamis, 15 Agustus 2019, pukul 19.30 WIB dan diresmikan Benny Santosa Halim (pecinta seni). Pameran dibuka secara gratis untuk umum mulai tanggal 16 Agustus hingga 24 Agustus 2019 pukul 10.00 – 18.00 WIB di Bentara Budaya Jakarta.

Sebanyak 30 karya bakal dipamerkan dari beberapa seniman, yakni Choerodin Roadyn, Muji Harjo, Endro Banyu, Sigit Raharjo dan Lenny Ratnasari W.

Mereka mencoba menerjemahkan makna atas tema sejalan dengan pendalaman filosofinya masing-masing baik tentang kehidupan batin dan lahiriah manusia, pencarian diri, lingkungan terdekat sekitarnya, maupun falsafah gotong-royong yang menjadi ciri masyarakat Indonesia.

Tajuk "Power of Java"

"Kendati mengangkat tajuk 'Power of Jawa', para seniman ini tidaklah ingin sekadar bernostalgia atas masa silam, melainkan ingin membagikan pesan pengingat perihal perubahan kondisi sosial dan budaya kini yang acap mengejar ‘kecepatan, kepraktisan, kemudahan’ namun mengesampingkan sopan-santun, unggah-ungguh, kearifan lokal, bahkan nilai sosial yang dulu dijunjung tinggi," ujar Ika W. Burhan, Ketua Pengelola Bentara Budaya Jakarta.

Baca juga: Menjelajahi Keanekaragaman Seni Rupa Indonesia

Sementara itu, Alex Luthfi, pendiri Saung Banon Arts Yogyakarta menyebutkan, "Masing-masing seniman sebenarnya merespons filosofi budaya Jawa yang selalu mengutamakan keseimbangan."

Ia menambahkan, nilai-nilai falsafah ini begitu kentara terutama dalam karya kolaborasi Choerodin Roadyn, Muji Harjo, Endro Banyu, dan Sigit Raharjo, berjudul "Power of Jawa" (oil, acrylic on canvas, 580 cm x 200 cm, 4 panel).

Karya ini secara kreatif mengolah imaji atas Candi Borobudur, sebuah situs sejarah yang dipandang sebagai salah satu puncak dari peradaban kebudayaan Jawa dan spirit kehidupan bagi masyarakatnya. Para ahli bidang sejarah dan arkeologi menyebut Borobudur dibangun sebagai monumen dan tempat ziarah yang di dalamnya terdapat banyak sekali simbol-simbol ajaran dan manifetasi kehidupan manusia.

“Di dalam imaji saya, tentang pembangunan Borobudur, tergambar spirit kerja bahu membahu, gotong royong mendirikan monumen sebagai penghormatan terhadap keyakinan agama yang kemudian menjadi cermin peradaban bangsa. Menghayati spirit pembangunan Borobudur, nampaknya telah menjelma kedalam sifat orang Jawa, yaitu mengedepankan gotong royong menyatukan satu visi,” ungkap Alex Luthfi.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X