Jusuf Kalla: Pengalaman Ilmuwan Diaspora Sangat Dibutuhkan

Kompas.com - 20/08/2019, 14:15 WIB
Jusuf Kalla saat menerima 52 ilmuwan diaspora, Senin (19/8/2019) di Kantor Wakil Presiden, Jalan Merdeka Utara, Jakarta, saat Pembukaan Rangkaian Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019. DOK. KEMENRISTEKDIKTIJusuf Kalla saat menerima 52 ilmuwan diaspora, Senin (19/8/2019) di Kantor Wakil Presiden, Jalan Merdeka Utara, Jakarta, saat Pembukaan Rangkaian Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019.

Kontribusi bangun pendidikan dan ekonomi

Pada kesempatan sama Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengungkapkan Kemenristekdikti mendukung para ilmuwan diaspora untuk berkontribusi di Indonesia, melalui berbagai cara, termasuk melalui Simposium Cendekia Diaspora Kelas Dunia yang mendiskusikan banyak gagasan bagi bangsa Indonesia.

"Sesuai dengan impian yang disampaikan Bapak Presiden RI Jokowi, yaitu penekanan pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia pada 2020 dan seterusnya, dan sesuai dengan semboyan yang disampaikan pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2019, yaitu Sumber Daya Unggul, Indonesia Maju," ujar Nasir.

Ia menyampaikan, "Hal ini adalah sangat penting tentang 'bagaimana seluruh warga negara Indonesia yang ada di luar negeri bisa berkontribusi untuk membangun pendidikan maupun ekonomi Indonesia menjadi lebih baik'." 

SCKD 2019 ini diadakan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Tinggi (SDID) Kemenristekdikti yang dihadiri 52 ilmuwan diaspora yang menetap di sejumlah negara.

Kecintaan tetap tinggi dan mendalam

Mewakili para ilmuwan diaspora, Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) Deden Rukmana mengungkapkan ada antusiasme dari ilmuwan Indonesia di sejumlah negara untuk berkontribusi nyata kepada Indonesia.

"Para ilmuwan diaspora yang datang di sini berjumlah 52 orang dari 13 negara. Di antara mereka juga ada yang telah lebih dari 25 tahun di luar Indonesia," ungkap Deden.

Ketua I4 juga mengungkapkan bahwa lamanya para diaspora Indonesia bekerja di luar negeri tidak membuat mereka enggan berkontribusi untuk Indonesia.

"Berapa tahun pun ilmuwan diaspora sudah di luar, baik satu dua tahun maupun 25 tahun, tapi kecintaan kami terhadap Republik Indonesia tetap tinggi dan mendalam, jadi ketika Indonesia memanggil, kami datang," ungkap Ketua I4 Deden Rukmana.

 

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X