Diaspora Talk 2019: Kekuatan "Ngobrol" Berbagi Inspirasi

Kompas.com - 20/08/2019, 20:48 WIB
Ditjen SDID Kemenristekdikti menghadirkan sejumlah ilmuwan muda diaspora dalam acara Diaspora Talks yang digelar Selasa, 20 Agustus 2019, di Aula Gedung D Ristekdikti, Jakarta. DOK. DITJEN SDID KEMENRISTEKDIKTIDitjen SDID Kemenristekdikti menghadirkan sejumlah ilmuwan muda diaspora dalam acara Diaspora Talks yang digelar Selasa, 20 Agustus 2019, di Aula Gedung D Ristekdikti, Jakarta.

"Di sini belajar sains justru cari cara mudah, cara gampang. Padahal mindset yang harus dibangun dalam sains harusnya justru menghargai proses dengan berpikir kritis dan sistematis dalam mencari jawaban dari persoalan," tegasnya.

Muhammad Aziz associate professor di University of Tokyo juga mengajak milenial yang hadir untuk melihat proses penelitian sebagai sebuah wadah membuat diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Proses penelitian, menurutnya merupakan proses 'mengetahui ketidaktahuan' sehingga riset menjadi proses dinamis yang secara tidak disadari akan memperbaiki dan bahkan menjadi 'loncatan' untuk menjadi pribadi yang lebih berkualitas.

"Eksis boleh tetapi narsis jangan. Orang harus eksis dengan mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya. Jangan narsis yang menganggap dirinya sudah paling baik," pesan Aziz.

Perempuan dalam riset

Semangat 'perempuan super' juga disuarakan Sastia Prama Putri, assistant professor  Departemen Bioteknologi, Fakultas Teknik, Osaka University, Jepang. Di Jepang, Sastia bekerja di bawah naungan mentor Prof. Eiichiro Fukusaki yang merupakan salah satu pioneer metabolomik di ilmu pangan.

Di awal paparan, Sastia memberi gambaran bahwa tantangan perempuan di bidang riset dan penelitian jauh lebih berat. Baru sekitar 30 persen peran perempuan dalam riset di dunia, termasuk Indonesia.

"Riset bukan hal yang mudah, dan kegagalan merupakan bagian darinya. Kita harus memiliki mental kuat untuk menjadi peneliti dan semangat positif setiap waktu. Terutama peneliti perempuan, harus ekstra lebih tanggung untuk mendapat perhatian dan pengakuan," tegas Sastia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ditambah lagi, peneliti perempuan sering kali harus menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu. "Full time mother, full time scientist," ujar Sastia yang telah mengenalkan Aisha, puterinya, pada dunia penelitian sejak usia dini.

Untuk itu, ia mengajak perempuan Indonesia untuk saling mendorong dan menguatkan satu sama lain, termasuk dalam bidang penelitian. Ketimbang saling 'nyinyir', ia mengajak perempuan Indonesia berkolaborasi untuk menguatkan emansipasi perempuan di ranah riset.

Hal ini telah dibuktikan Sastia lewat beberapa pendampingan dan kerja sama riset dengan peneliti perempuan Indonesia lain di antaranya; Tissa (co-founder Pipiltin Cocoa), Neni Nuraini (manager R&D Biofarma) dan Fenny Dwivany (tim riset ITB).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.