“Diaspora Jangan seperti Kembang Api, Harus Nyata dan Berkelanjutan”

Kompas.com - 23/08/2019, 17:34 WIB
Pembukaan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019 di Jakarta, Jumat (23/8/2019). KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEAPembukaan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019 di Jakarta, Jumat (23/8/2019).

KOMPAS.com - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyelenggarakan rangkaian Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) bertema "Bangkit dan Bersinergi, Membangun Kejayaan Ilmu Pengetahuan Indonesia di Pelataran Dunia" pada 18-25 Agustus 2019 di Jakarta.

Dalam acara ini, para ilmuwan diaspora yang tersebar di berbagai negara hadir membagikan ilmu pengetahuan dan pengalaman mereka selama menjadi ilmuwan di luar negeri.

Diharapkan mereka bisa memberikan kontribusi nyata pada negara, terutama dalam akselerasi dan transfer keilmuan, serta pengembangan dalam penelitian yang berguna untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan pihaknya menginginkan acara semacam ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi ada pengaruhnya secara langsung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dampak nyata masyarakat

“Kita tidak ingin acara diaspora ini seperti kembang api, menyala sebentar setelah itu redup. Tapi seharusnya terencana, sistematik, berkelanjutan, dan terukur,” ucap Ali Ghufron dalam pembukaan SCKD 2019 di Jakarta, Jumat (23/8/2019).

Baca juga: Diaspora Talk 2019: Kekuatan Ngobrol Berbagi Inspirasi

Dia mengharapkan hasil dari rangkaian acara dalam simposium ini memiliki dampak positif yang bisa dirasakan secara nyata oleh masyarakat di Tanah Air.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ali pun mengungkapkan, tercatat 172 ilmuwan diaspora yang melamar untuk mengikuti SCKD tahun ini. Namun, tidak semuanya bisa ikut karena keterbatasan dana pemerintah sehingga diseleksi dan terpilih 52 diaspora dari 18 negara.

“Acara diaspora ini yang melamar 172 orang, tapi dievaluasi karena dana terbatas. Mereka dipilih yang punya track record bagus dan melakukan kerja sama dengan Indonesia ada dampak atau outputnya. Itu yang jadi referensi,” jelasnya.

Untuk pendaftar dari dalam negeri ada lebih dari 2.500 orang. Mereka pun diseleksi karena keterbatasan dana dan kapasitas, hingga akhirnya dipilih sekitar 700 orang.

Beasiswa diaspora

Selain itu, diundang pula post doctoral yang dimaksudkan untuk regenerasi ilmuwan sehingga lebih dikenal masyarakat. Sebab, selama ini umumnya kebanyakan orang Indonesia hanya tahu segelintir ilmuwan, misalnya BJ Habibie.

Ali menginginkan nantinya diaspora memiliki program beasiswa untuk memberikan kesempatan kepada para ilmuwan muda bisa menjalani studi dan mengembangkan karier di luar negeri.

Dengan demikian, jumlah ilmuwan dan diaspora berkualitas dari Indonesia akan semakin banyak dan tersebar di berbagai penjuru dunia.

“Kita ingin ada program beasiswa diaspora. Kita bisa pilih berbagai universitas di dunia. Jadi agen-agen diaspora yang sudah ada memberi bimbingan, bikin koneksi dan jaringan,” pungkasnya.

SCKD 2019 merupakan hasil kerja sama Kemenristekdikti dengan Kementerian Luar Negeri, Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, dan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X