4 Program Kerja Sama Monash University dan Indonesia

Kompas.com - 28/08/2019, 20:23 WIB
President and Vice-Chancellor Monash University Margaret Gardner (kedua dari kiri) dalam acara Media Roundtable, Selasa (27/8/2019) di Jakarta. KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEAPresident and Vice-Chancellor Monash University Margaret Gardner (kedua dari kiri) dalam acara Media Roundtable, Selasa (27/8/2019) di Jakarta.

KOMPAS.com – Monash University di Melbourne, Australia telah menjalin hubungan dengan Indonesia dalam banyak hal selama puluhan tahun. Sudah lebih dari 10.000 mahasiswa dari Tanah Air menempuh pendidikan di kampus tersebut.

Kolaborasi itu juga diwujudkan lewat berbagai proyek bersama. Salah satunya, Global Immersion Guarantee (GIG) sebuah program penempatan mahasiswa Monash di lima negara, yaitu China, Italia, Malaysia, India, termasuk pula Indonesia.

“Ini merupakan pertukaran mahasiswa, ada 46 mahasiswa yang dikirim. Mereka keliling Indonesia mengeksplorasi area-area yang harus ditangani untuk riset mereka. Sekarang ada 46 orang, tahun depan bisa jadi ratusan orang,” ujar President and Vice-Chancellor Monash University Margaret Gardner dalam acara media roundtable, Selasa (27/8/2019) di Jakarta.

Pemberantasan demam berdarah

Proyek berikutnya World Mosquito Program merupakan program nirlaba berskala global sebagai upaya melindungi masyarakat lokal dari penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.

Inisiatif program ini muncul setelah berjangkitnya demam berdarah di sejumlah provinsi di Indonesia dan menjadi endemis di berbagai kota dan desa.

Baca juga: Beasiswa Penuh S2 di Stanford University Amerika Serikat

Penelitian program ini dilakukan di Yogyakarta dengan berkolaborasi bersama Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan didanai Yayasan Tahija.

“Proyek riset besar lainnya yaitu pemberantas nyamuk dengue. Di Yogyakarta bermitra dengan lembaga swadaya masyarakat, kampus, dan komunitas untuk mencegah penyebaran nyamuk tersebut di daerah-daerah,” imbuh Margaret.

Penyediaan air bersih

Selanjutnya, dia mengungkapkan, ada juga program Revitalising Informal Settlements and their Environments (RISE). Wujudnya berupa perbaikan sanitasi, pencegahan banjir, serta penyediaan tempat tinggal dan ruang terbuka di permukiman layak.

Margaret menuturkan, proyek ini berlokasi di 12 daerah kumuh di Makassar, Sulawesi Selatan, dan berlangsung selama lima tahun. Pembiayaannya berasal dari yayasan filantropis, sejumlah donatur, dan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB).

“Kami juga melibatkan tim periset, insinyur, arsitek, perencana kota, ilmuwan sosial, dan ahli kesehatan. Itu proyek besar yang dilakukan untuk menyediakan air bersih di daerah kumuh agar masyarakat bisa mendapatkan kualitas hidup yang sehat,” ungkapnya.

Proyek smart aiport

Proyek terakhir Monash University yang sedang berjalan di Indonesia yakni penelitian di bidang ekonomi digital dan pengelolaan bandara yang disebut smart airport. Kerja sama dilakukan dengan Kementerian Perhubungan dan PT Angkasa Pura II.

“Untuk proyek transportasi di Jawa Barat itu smart airport. Ada juga edukasi mengenai inovasi untuk menigkatkan pendidikan digital. Sudah ada perjanjian dengan Angkasa Pura II menyangkut fasilitas dan operasionalnya,” tutur Margaret.

Menurut dia, sejumlah proyek dan penelitian itu merupakan kolaborasi bagus untuk menjalin hubungan yang semakin erat dengan Indonesia, termasuk berbagai perguruan tinggi. Hal itu dirasa sangat penting sebagai bagian dari kerja sama regional untuk masa mendatang.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X