Speech Delay, Cara Deteksi Dini dan Pencegahannya

Kompas.com - 11/09/2019, 18:14 WIB
Peserta Seminar dan pembicara launching website www.dini.id mengangkat tema Deteksi Dini Speech Delay di Jakarta (31/8/2019). DOK. DINI.idPeserta Seminar dan pembicara launching website www.dini.id mengangkat tema Deteksi Dini Speech Delay di Jakarta (31/8/2019).

KOMPAS.com - Speech Delay atau keterlambatan bicara merupakan istilah umum merujuk pada proses keterlambatan bicara dan berbahasa yang tidak sesuai dengan usia perkembangan anak.

Banyak orang tua menganggap speech delay sebagai kondisi normal atau hal yang biasa dialami dalam proses tumbuh kembang anak. Padahal terlambat bicara jika dibiarkan dan tidak ditangani dengan rujukan ahli bisa menjadi satu gangguan serius pada anak.

Ditemui Kompas.com, psikiater anak dr. Anggia Hapsari, SpKJ dari dini.id mengatakan kurangnya pemahaman dan perhatian serius dari orangtua mengenai kondisi speech delay pada anak dapat mengganggu proses tumbuh kembang anak di tahap-tahap selanjutnya.

“Mereka (orang tua) beranggapan bahwa, oh nanti anak muncul bicaranya belakangan, nanti dia geraknya dulu, loncatnya dulu. Ini mah hal biasa kok. Tapi ternyata sebagai dokter, tolak ukur perkembangan bicara dan berbahasa itu adalah sebagai tolak ukur perkembangan kognitif anak yang nantinya akan berpengaruh juga pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya,” jelas Anggia.

Deteksi dini

Pemantauan perkembangan anak secara dini dan berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk mendeteksi adanya keterlambatan bicara atau speech delay pada anak.

Baca juga: Penuh Haru, Kisah Ibu Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus Jadi Lulusan Termuda UNY

"Deteksi yang lebih dini dapat membantu perkembangan anak untuk mengejar ketertinggalan dalam hal kemampuan berbicara. Jika sudah mendapat deteksi dini, maka segera mungkin lakukan stimulasi yang berkelanjutan agar bisa mengejar tahap perkembangan yang selanjutnya," jelas dr. Anggia.

Pasalnya, menurut Anggia keterlambatan bicara bisa menjadi gejala awal adanya berbagai macam gangguan seperti Autism, ADHD, Disabilitas Intelektual, gangguan berbahasa ekspresif dan reseptif.

“Sangatlah penting untuk mengawasi tumbuh kembang anak secara konsisten. Lakukanlah stimulasi sedini mungkin dengan mulai bicara kepada anak dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan sering. Ambil banyak kesempatan untuk berbicara, mendengarkan, dan merespons anak. Bacakan buku bergambar untuk anak. Hindari penggunaan gadget sejak dini," jelasnya.

Menurutnya, orangtua sering kali terlambat menyadari speech delay pada anak itu setelah anak berumur 3 tahun.

“Satu atau dua tahun ga bisa bicara, orangtua baru sadar. Menurut saya umur 2 tahun baru sadar lambat bicara itupun sudah agak jauh ketinggalannya. Dan ini memang karena ada proses yang lambat. Mulai 6 bulan lambat, 9 bulan lambat tapi karena mayoritas masyarakat terutama ibu-ibu dan orangtua tidak paham, makanya mereka menunggu saja,” paparnya.

Ia mengingatkan, "Jadi sebaiknya memang mendeteksi sedini mungkin pada saat usia 12-13 bulan. Harusnya pada 12-13 bulan anak setidaknya mengucapkan tambahan satu sampai dua kata selain ma-ma atau da-da.”

2 jenis speech delay

Selain masih kurangnya perhatian serius dari orang tua terhadap kondisi speech delay pada anak, banyak juga persepsi salah mengenai kondisi tersebut. 

Speech delay pada anak merupakan suatu gangguan yang perlu diperhatikan, speech delay bukan sebuah diagnosa melainkan sebuah gejala, jadi pada anak-anak dengan speech delay
itu adalah gejala awal dari beberapa macam gangguan," ujar lulusan Spesialis Kesehatan
Jiwa, Universitas Indonesia ini.

Anggia kemudian menjelaskan speech delay dibagi menjadi dua klaster:

1. Gangguan speech delay fungsional: tergolong ringan, gangguan fungsional itu terjadi karena kurangnya stimulasi atau pola asuh yang salah.

2. Gangguan speech delay nonfungsional: merupakan sebuah akibat karena adanya sebuah gangguan bahasa reseptif, seperti autism ataupun ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang dialami anak.

“Sangatlah penting untuk mengawasi tumbuh kembang anak secara konsisten. Lakukanlah stimulasi sedini mungkin dengan mulai bicara kepada anak dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan sering. Ambil banyak kesempatan untuk berbicara, mendengarkan, dan merespons anak. Bacakan buku bergambar untuk anak. Hindari penggunaan gadget sejak dini," ujar Anggia mengingatkan.

 

Komunikasi 2 arah

Anggia meyampaikan selain dapat mengakibatkan anak kesulitan berkomunikasi, speech delay juga berakibat pada sulitnya orangtua memahami keinginan anak. Bahkan menurutnya, akibat lebih jauh speech delay bisa berdampak serius.

“Akibat jauhnya mereka sangat mudah untuk memiliki faktor risiko gangguan jiwa, seperti depresi dan anxiety. Karena itu tadi, mereka tidak bisa mengekspresikan apa yang mereka mau. Bagi mereka semua perasaan itu ga nyaman. Ga nyamannya seperti apa, mereka tidak bisa ngomong atau mengekspresikan apakah mereka sedih, marah, atau kecewa, dan ini bisa berawal dari speech delay tadi,” kata Anggia.

Beberapa langkah dapat dilakukan untuk melakukan diteksi dini dapat dilakukan dengan cara:

1. Menggunakan sistem assessment tumbuh kembang anak. Ada beberapa bersifat gratis online diantaranya www.dini.id. Melalui dini.id orangtua dapat melakukan assessment online secara gratis sesuai dengan usia anak Anda. Sehingga jika ditemukan adanya permasalahan pada anak, dapat ditangani sedini mungkin.

2. Mengikuti kelas dirancang khusus stimulasi perkembangan anak di playground yang sudah bekerja sama dengan profesional child mental health(psikiater dan psikolog anak), di antaranya; AppleBee Taman Anggrek, Jakarta.

“Selain menghindari gadget dan televisi, ajak anak bermain sesering mungkin (dalam rumah). Bermainnya pun bukan hanya memberikan mainan banyak, tapi juga harus ada interaksi dua arah antara anak dan orang tua," ujar Anggia.

Ia menambahkan, kadang-kadang orangtua mau yang gampang, tidak mau repot sehingga anak menangis selalu diberikan apa yang anak mau, termasuk gadget.

"Harusnya tidak seperti itu. Yang benar adalah harus terjadi interaksi dua arah antara orang tua dengan anak. Nah, dengan interaksi dua arah yang semakin banyak itu, orang tua akan membantu anak berkembang kosakatanya, dan kemampuan emosionalnya juga akan lebih berkembang,” tutup Anggia.

Penulis: Sarah Sekar

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X