Kembangkan PT DI, BJ Habibie Hasilkan Banyak Insinyur Spesialis

Kompas.com - 15/09/2019, 10:20 WIB
Foto penggalangan dana untuk purwarupa pesawat rancangan BJ Habibie, R80. Kitabisa.com/Regio Aviasi IndustriFoto penggalangan dana untuk purwarupa pesawat rancangan BJ Habibie, R80.

KOMPAS.com - Presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia di Paviliun Kartika, RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Rabu (11/9/2019), akibat penyakit yang dideritanya.

Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, itu meninggal setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit tersebut sejak 1 September 2019.

Semasa hidupnya, Habibie tercatat beberapa kali menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi Kabinet Pembangunan dalam masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Selain menjadi pejabat negara, dia juga berhasil memperoleh berbagai penghargaan internasional karena pengakuan terhadap keahliannya yang mumpuni di bidang teknologi kedirgantaraan.

Ilmuwan dirgantara

Salah satu kiprahnya di Indonesia yaitu mengembangkan industri dirgantara lewat Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Kini IPTN dikenal dengan nama PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Melalui perusahaan itu pula, Habibie mampu menghasilkan banyak insinyur dalam industri penerbangan.

Baca juga: BJ Habibie: Anak Indonesia Sekarang Harus Lebih Hebat dari Habibie...

Ada sejumlah insinyur yang pernah bekerja di PT DI itu kini bekerja di Kanada. Mereka menjadi insinyur di perusahaan pembuat pesawat atau helikopter yang berkantor pusat di Montreal, misalnya Bombardier Aerospace dan Bell Helicopter.

Seperti diwartakan pada Kamis (17/12/2015), Kompas.com memiliki kesempatan bertemu para diaspora yang merupakan insinyur dirgantara Indonesia di Kanada dalam suatu pertemuan di rumah Atase Perhubungan RI di Kanada, Agoes Soebagio, pada akhir November 2015.

Alumnus PT DI yang merupakan diaspora insinyur dirgantara Indonesia di Kanada bersama Utusan Khusus Indonesia untuk ICAO Indroyono Soesilo dalam pertemuan di Atase Perhubungan RI untuk Kanada Agoes Soebagio di Montreal, Sabtu (21/11/2015).Bayu Galih/Kompas.com Alumnus PT DI yang merupakan diaspora insinyur dirgantara Indonesia di Kanada bersama Utusan Khusus Indonesia untuk ICAO Indroyono Soesilo dalam pertemuan di Atase Perhubungan RI untuk Kanada Agoes Soebagio di Montreal, Sabtu (21/11/2015).

Saat itu, Utusan Khusus Indonesia untuk Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO), Indroyono Soesilo, ikut hadir dan memberi respons positif kepada para insinyur lulusan PT DI yang dinilainya mempunyai kemampuan luar biasa.

"Mereka ini spesialis. Kalau di bidang khusus seperti dirgantara, harus punya kemampuan luar biasa untuk menjadi seorang spesialis," ucap Indroyono.

Spesialisasi khusus

Pada pertemuan, setiap orang yang hadir diketahui memiliki spesialisasi masing-masing. Sebagai contoh, Sigit Afrianto, dia merupakan alumnus PT DI yang terlibat dalam pengembangan pesawat CN235 MPA, N250, N2130, dan N219. Keahlian khusus yang dimilikinya yaitu di bidang pneumatics dan air conditioning system.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X