Gaji Guru Honorer Akan Diupayakan Tidak Lagi dari Dana BOS

Kompas.com - 13/10/2019, 21:24 WIB
Lokakarya dengan tema ?Guru Milenial: Sebuah Profesi di Masa Depan?, Kamis (10/10/2019) di kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta. Dok. KemendikbudLokakarya dengan tema ?Guru Milenial: Sebuah Profesi di Masa Depan?, Kamis (10/10/2019) di kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta.


KOMPAS.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan lokakarya dengan tema “ Guru Milenial: Sebuah Profesi di Masa Depan”, Kamis (10/10/2019) di kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta.

Acara itu dilakukan bekerja sama dengan Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) dalam rangka memperingati Hari Guru Sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Oktober.

Dalam sambutan, Mendikbud Muhadjir Effendy mengingatkan pentingnya profesionalisme guru untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) unggul.

"Kalau saya ditanya, di pendidikan apa yang harus pertama diprioritaskan? Menurut saya adalah guru. Karena guru inilah kuncinya. Kita tidak mungkin berbicara SDM unggul, kalau guru tidak memiliki kapasitas itu. Karena itu, di akhir masa jabatan, saya fokus ke guru," kata Mendikbud melalui keterangan tertulis.

3 indikator profesional

Sebelumnya, ia menjelaskan, ada tiga indikator guru profesional, yaitu keahlian, tanggung jawab sosial, dan rasa kebanggaan bersama.

Sebagai pekerjaan profesional, profesi guru menuntut keahlian tertentu yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan dalam waktu yang cukup lama dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi.

Baca juga: Forum Komunikasi FKIP Ajak Guru Lakukan Transformasi Pembelajaran

Menurut Muhadjir, pekerjaan profesional itu artinya tidak ada orang yang bisa mengerjakan pekerjaan itu kecuali mereka yang belajar dan terlatih cukup lama.

"Kalau ada pekerjaan, tidak perlu sekolah lama-lama, atau juga tingkat kesulitan tidak terlalu tinggi sehingga hampir semua orang bisa melaksanakan, maka itu bukanlah profesi," imbuhnya.

Ia mengharapkan agar setiap guru dapat memahami tanggung jawab sosial yang menempel pada profesinya. Dampak pekerjaan seorang guru bukan hanya bersifat pribadi, melainkan sifatnya publik.

"Misalnya guru itu mengajari anak salah, maka yang menderita nanti bukan hanya anak yang salah itu, tetapi semua orang yang berelasi dengan anak itu," ucap Muhadjir.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X