Kompas.com - 28/10/2019, 19:35 WIB

KOMPAS.com – Sejumlah pengamat dan pemerhati pendidikan optimistis dengan penunjukan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Maju oleh Presiden Joko Widodo.

Penunjukan ini dinilai menjadi gebrakan presiden terhadap “gawat darurat” pendidikan nasional.

Sosok Nadiem dipandang pemerhati pendidikan Bukik Setiawan dapat membawa cara baru dalam menata sistem pendidikan.

Pasalnya, hasil riset lembaga SMERU disebut Bukik menunjukkan hasil capaian belajar anak justru menurun dalam 15 tahun terakhir.

“Kita harus bisa bedakan antara praktisi pendidikan dengan menteri pendidikan, pengajar dengan manajer pengajaran. Yang diurus oleh menteri adalah manajemen pendidikannya,” ungkapnya saat ditemui dalam Temu Pendidik Nasional (TPN) 2019 di Sekolah Cikal Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (27/10/2019).

“Malah ada kesamaan antara kualifikasi Nadiem dengan kebutuhan pekerjaan menteri pendidikan.”

Spesialis data dan "gaya swasta"

Hal senada disampaikan pengamat sekaligus penggagas Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan, Najelaa Shihab. Pendidikan kini dirasanya makin tidak relevan dengan apa yang dibutuhkan anak.

Baca juga: TPN 2019 dan Upaya Mendobrak Pembelajaran yang Membosankan

“Saya rasa ini spesialisasinya Mas Nadiem, (soal) data-data pendidikan dan proses assessment termasuk ujian nasional perlu banyak direformasi,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (27/10).

“Sehingga bisa jadi umpan balik. Bukan hanya tentang anak, tapi juga tentang sistem pendidikan kita,” tambah Najelaa.

Sementara itu, pengamat yang juga Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta DKI Jakarta Imam Parikesit menekankan "gaya swasta" Nadiem dianggap tidak ingin terlalu birokratis.

“Kan beliau sudah mulai dengan cara halus, ‘Panggil saya Mas Menteri, jangan Pak Menteri.’ Itu kan menandakan tidak ingin ada jarak,” sebutnya saat dijumpai di Sekolah Cikal Cilandak, Minggu (27/10).

Rekam jejak Nadiem yang mampu menciptakan lapangan kerja juga menjadi harapan baru bagi Imam, terlebih Presiden Jokowi telah menginstruksikan kebijakan dunia pendidikan yang harus link and match dengan lapangan kerja.

Beri kesempatan aktualisasi program

Ketua Kampus Guru Cikal, Bukik Setiawan, ketika ditemui saat konferensi pers TPN 2019 (26/10/2019). DOK. KOMPAS.com/EVELYN KUSUMA Ketua Kampus Guru Cikal, Bukik Setiawan, ketika ditemui saat konferensi pers TPN 2019 (26/10/2019).

Namun, Najelaa menggarisbawahi peran Kemdikbud tidak hanya membawahi urusan pendidikan, tetapi juga kebudayaan, sehingga tujuan pendidikan diharapkan tak hanya sebatas link and match.

“Pendidikan kan tujuannya adalah menumbuhkan potensi semua dan setiap anak, menumbuhkan insan yang kuat, warga negara yang mendorong demokrasi dan antikorupsi,” jelasnya.

Masyarakat, menurut Najelaa, perlu memberikan waktu kepada Nadiem untuk mengaktualisasikan terobosannya.

Dalam pandangan lain, Bukik meminta aktualisasi tersebut, termasuk standar nasional pendidikan, harus dijalankan tanpa memprioritaskan satu ketimbang lainnya.

Penyelesaian pekerjaan rumah lain juga tak kalah penting baginya, seperti memajukan pendidikan tanpa membedakan negeri-swasta, atau dikotomi identitas lainnya.

Penulis: Gregorius Giovani

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.