Jalan Panjang Indonesia Mengentaskan Nalar Membaca yang Rendah

Kompas.com - 22/11/2019, 21:15 WIB
Anak-Anak sekolah dasar di Kampung Pupung, Desa Rondo Woing, Kecamatan Ranamese, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, 2017 sedang membaca buku di Rumah Baca Cengka Ciko seusai jam sekolah dan juga hari-hari libur. Foto ini diterima KOMPAS.com, Selasa, (10/9/2019). (Arsip Rumah Baca Cengka Ciko/KOMPAS.com/Markus Makur) ARSIP/RUMAH BACA CENGKA CIKOAnak-Anak sekolah dasar di Kampung Pupung, Desa Rondo Woing, Kecamatan Ranamese, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, 2017 sedang membaca buku di Rumah Baca Cengka Ciko seusai jam sekolah dan juga hari-hari libur. Foto ini diterima KOMPAS.com, Selasa, (10/9/2019). (Arsip Rumah Baca Cengka Ciko/KOMPAS.com/Markus Makur)

KOMPAS.com - Laporan Bank Dunia terbaru 2019 berjudul "The Promise of Education" menyebutkan lebih dari sepertiga anak pada usia 10 tahun tak mampu membaca dan memahami cerita sederhana. Kondisi tersebut lazim dikenal dengan sebutan learning poverty.

Di negara-negara miskin termasuk Indonesia, learning poverty mencapai 80 persen.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Harris Iskandar mengatakan data milik Bank Dunia merupakan paparan yang bagus.

Ia menyebutkan saat ini tingkat buta huruf di Indonesia sudah berada di tingkat minimum yakni 1,93 persen untuk umur 15-59 tahun.

"Dan itu tersebar di provinsi Indonesia Timur, pedesaan bukan perkotaan. Umumnya adalah memang di kantong2 kemiskinan," ujar Harris kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (19/11/2019).

Baca juga: Krisis Dunia Pendidikan, Satu Pesan dari Bank Dunia...

Menurutnya, dari dua pertiga dari total masyarakat Indonesia yang buta huruf adalah perempuan dan usianya di atas 45 tahun. Masyarakat Indonesia yang ada di bawah umur 45 tahun hampir 98 persen itu bisa membaca tulis dengan baik.

"Bank Dunia belum punya data tentang Indonesia. Ini semacam wake up call buat kita. Di dunia ada learning poverty seperti ini," ujar Harris.

Realita literasi

Pengajar Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Indonesia dan Singapore Univesity of Social Science, Ibnu Wahyudi menyebutkan realitas learning poverty yang disebutkan Bank Dunia memang terjadi Indonesia.

Kemampuan baca tulis di Indonesia tak sesuai dengan hakikat pengertian literasi.

"Pada kata "literasi" itu hakikatnya termaktub makna pemahaman kritis; bukan sekadar mampu mengucapkan kata atau kalimat. Sayangnya, pada usia awal bersekolah, aspek pemahaman dan mempertanyakan ini kurang mendapat peran," kata laki-laki yang akrab disapa Iben saat dihubungi Kompas.com

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X